Saturday, 12 March 2016

The Camp - The First Journey Eps.10


10. Terpisah

            Aku masih terdiam terpaku. Pemandangan di sana sangat indah. Menatap sawah sungguh menyejukkan. Di tambah bintang-bintang yang akan muncul nanti malam menaburi langit malam dengan serbuk cahaya kerlap-kerlip. Angin sepoi-sepoi menerjang ke arahku. Padi di sawah itu belum begitu menguning, tetapi sudah terlihat menyenangkan untuk dikunjungi.

            Aku menatap sekeliling. Di tebing itu hanya terdapat padang rumput kecil. Sementara pohon hanya terdapat satu diujung tebing yang seperti akan tumbang ke bawah. Pohon itu besar dan sangat rindang. Memang kelihatannya di sanalah tempat paling cocok berkemah. Di bawah pohon besar dan rindang itu agar tidak panas. Sementara pohon lain ada jauh di belakang.

            Aku berjalan mendekat. Pohon itu sungguh besar dan tinggi. Sebesar pohon mangga yang sudah dewasa, tetapi batangnya lebih kecil. Aku tidak tahu pohon apakah itu. Tetapi pastinya mengasyikan berkemah di bawahnya. Aku mengelilingi pohon itu untuk memastikannya aman. Aku memanjat pohon itu. Pohon itu juga memiliki dahan yang enak dijadikan tempat berbaring. Aku terus memanjat memeriksa ke segala sisi pohon itu. Tetapi aku tidak menemukan ulat satupun. Bagus! Aku masih memeriksa. Di puncak pohon itu, terdapat banyak sarang burung. Tentunya pohon ini menjadi persinggahan yang bagus bagi burung-burung sawah dan lainnya.

            Aku tidak segera turun. Aku menuju sebuah dahan besar dan cukup kuat yang menghadap ke arah sawah. Aku duduk di sana dan memandangi sawah itu. Angin sepoi-sepoi begitu menenangkan dan aku mulai merebahkan diri di dahan itu. Tanpa kusadari, aku pun tertidur.

Sementara itu, Yudis masih berusaha mencari hewan-hewan air untuk difoto. Beberapa kali ia gagal dan hal itu membuatnya kesal. Tetapi ternyata ia pantang menyerah. Mungkin karena ia ingin aku memasakkan sup jamur untuknya sekaligus membalas perbuatanku tadi pagi. Hari sudah agak siang. Kira-kira jam sebelas. Yudis sudah berhasil mendapatkan foto serangga air, ikan, bahkan udang air tawar. Ia menghembuskan nafas ketika berhasil mendapatkan foto itu. Tetapi ia masih belum puas sebelum mendapatkan foto kepiting yang tadi ia temui. Sebenarnya ia sempat mengambil foto kepiting itu, tetapi hasilnya kurang jelas karena kepiting itu tersamar bebatuan sementara itu memotret dari jarak yang cukup jauh.

            Yudis berjalan ke tempat ia menemukan kepiting itu. Ia sampai ke sebuah air terjun kecil di utara. Ia mulai mencari-cari kepiting itu. Akhirnya ia menemukan empat ekor sedang berjemur di sebuah batu di tengah sungai. Wah, hebat, pikirnya. Ia mengendap-endap menuju batu besar itu. Tetapi karena letaknya di tengah sungai, terpaksa celananya sedikit basah.

            Ketika dirasa cukup dekat, Yudis menengok. Untunglah kepiting itu belum lari. Segera ia mengarahkan kameranya sebelum terlambat. Sayangnya, ketika ia akan mengambil gambar, Rizky berteriak dari belakang memanggilnya. Yudis kaget dan menoleh sehingga gambarnya menjadi rusak kembali. Yudis kaget dan sangat kesal. Kepiting itu sudah pada lari, tetapi masih satu tertinggal. Yudis memberi isyarat kepada Rizky untuk diam.

            Yudis mengendap-endap perlahan  menuju sisi dimana kepiting itu masih berjemur. Segera ia mengarahkan kameranya dan akhirnya ia berhasil menangkap gambar kepiting itu. Yudis kembali menuju pinggir sungai dan Rizky menghampirinya. Yudis menunjukan wajah kesal.

            “Kau ini seperti monyet hutan! Tidak bisakah kau diam, padahal tadi itu ada banyak kepitingnya dan mereka lari semua. Untunglah aku berhasil mengambil gambarnya satu.”

            “Hehe, maaf. Aku tidak tahu kau akan mengambil gambar kepiting itu. Setidaknya satu saja sudah cukup kan?”

            “Nanti dulu. Kalau kualitasnya jelek, kau yang akan mengambil gambar kepitingnya.” Kata Yudis.

            Yudis mengutak-atik kameraku mencari gambar kepiting yang tadi difotonya. Hasilnya, gambar itu memiliki kualitas yang memuaskan. Yudis puas dengan pekerjaannya.

            “Syukurlah. Akhirnya aku berhasil.” Kata Yudis. “Hei, Ki. Jam berapa ini?”

            “Sudah jam setengah dua belas.”

            “Yeah! Sekarang Komang akan membalasnya dan membuatkanku sup jamur!” Seru Yudis sambil mengacungkan kepalan tangan penuh kemenangan.

            “Sup jamur?” Tanya Rizky.

            “Ya. Aku bertaruh kepadanya kalau pekerjaanku selesai sebelum jam dua belas siang, dia akan membuatkanku sup jamur.”

            “Wah, sepertinya bagus. Seharusnya ia juga membuatkanku sup jamur karena menurutku yang sudah kuteliti tentang tumbuhan cukup banyak.” Kata Rizky sambil menunjukkan hasil penelitiannya.

            “Wah, ini sih sudah banyak. Cukupkan saja. Ini cukup kok untuk mendeskripsikan ekosistem tumbuhan di sini. Kau benar-benar hebat!” Seru Yudis kaget melihat penelitian Rizky yang mencakup hingga dua lembar kertas.

            “Ya, sekarang dimana Komang? Masa dia selama ini? Sudah dua sejak ia memeriksa tempat kemah baru kita.”

            “Kita coba mencari di perkemahan. Mungkin dia ada di sana.” Ajak Yudis.

            Mereka segera menuju kemah untuk melihatku yang sebenarnya masih tertidur di dahan pohon yang sejuk itu. Sesampai di kemah, tentu saja mereka kebingungan karena aku tidak ada di sana. Mereka mencari ke setiap sisi di sekitar kemah, tetapi masih tidak menemukanku. Mereka jadi bingung.

            “Dimana lagi ini si Mangkuk? Menghilang saja dia.” Kata Yudis.

            “Mungkin dia mencari kita. Bagaimana bila kita kembali mencarinya?”

            “Tetapi kita sudah melewati jalur sungai dan tak menjumpainya.” Kata Yudis heran.

            “Mungkin dia melewati jalur hutan. Kita coba saja cari.”

            “Baik. Kau ke utara, dan aku ke selatan.”

            “Jangan! Sebaiknya seefisien mungkin. Kita dari tadi hanya meneliti di daera utara, kan? Jadi kita coba saja cari di daerah utara. Dia sudah tau itu kok. Sekarang kau mencari di seberang, aku di sini.”

            “Baiklah. Semoga saja ia tidak tersesat.

            Mereka memulai pencarian. Rizky berpikir bahwa aku pasti bingung mencari mereka, karena tidak mungkin aku tersesat sementara aku yang paling mengenal daerah ini diantara mereka bertiga.

            Yudis menyeberangi jembatan bambu dan mulai mencari di seberang. Mereka terus mencari kedalam hutan, tetapi tentu saja mereka tidak menemukanku. Mereka jadi semakin bingung dan khawatir. Akhirnya mereka memutuskan untuk memeriksa tempat aku mengecek lokasi kemah baru kami.


Sementara itu, aku sudah terbangun dan matahari sudah sangat tinggi. Aku kaget dan segera turun. Matahari sepertinya sudah menunjukkan sekitar pukul dua belas. Aku bergegas kembali ke kemah untuk memberitahu Yudis dan Rizky bahwa aku telah menemukan lokasi bagus.

Aku sudah memasuki hutan dan menuruni bukit menuju kemah. Aku berlari pelan dan akhirnya sampailah aku di kemah, tetapi keadaan sepi. Aku berpikir, bahwa mereka masih meneliti sehingga aku tidak begitu panik. Malahan senang karena aku tidak jadi membuatkan sup jamur untuk Yudis.

Aku duduk sebentar sambil meneguk air minum untuk menyegarkan kerongkonganku yang seperti sudah menjadi gurun tandus. Setelahnya aku pun berdiri untuk mencari mereka. Aku melewati jalur hutan dan mencari-cari jejak keberadaan mereka. Tetapi anehnya, aku tidak menemukan mereka. Aku bingung. Aku mengira mereka sudah selesai lalu menuju kemah dan melewati jalur sungai.

Aku segera menyusul kembali ke kemah, kini melewati jalur sungai. Sesampai di sana, aku semakin terheran-heran karena mereka tetap lenyap dari pandangan. Aku jadi was-was kalau-kalau mereka sudah selesai dan mencariku. Itu artinya aku harus menunggu mereka untuk waktu yang lama sampai mereka menyerah. Atau mencari mereka secepat mungkin untuk menghemat waktu. Atau aku kalah dan harus membuatkan Yudis sup jamur. Aku benar-benar bingung.


-Revan


2 comments:

  1. untuk seri "the camp- the first journey" kira-kira sampai berapa episode?
    -Peace

    ReplyDelete
  2. Kak, ngga mau dilanjutin lagi kah 🥹

    ReplyDelete

Silahkan yang ingin berkomentar. Tetapi mohon menggunakan bahasa yang sopan dan santun agar tidak menyinggung perasaan.