10. Terpisah
Aku masih terdiam terpaku.
Pemandangan di sana sangat indah. Menatap sawah sungguh menyejukkan. Di tambah bintang-bintang yang akan muncul nanti malam menaburi langit malam
dengan serbuk cahaya kerlap-kerlip. Angin sepoi-sepoi menerjang ke arahku. Padi
di sawah itu belum begitu menguning, tetapi sudah terlihat menyenangkan untuk
dikunjungi.
Aku menatap sekeliling. Di tebing
itu hanya terdapat padang rumput kecil. Sementara pohon hanya terdapat satu
diujung tebing yang seperti akan tumbang ke bawah. Pohon itu besar dan sangat
rindang. Memang kelihatannya di sanalah tempat paling cocok berkemah. Di bawah
pohon besar dan rindang itu agar tidak panas. Sementara pohon lain ada jauh di
belakang.
Aku berjalan mendekat. Pohon itu
sungguh besar dan tinggi. Sebesar pohon mangga yang sudah dewasa, tetapi
batangnya lebih kecil. Aku tidak tahu pohon apakah itu. Tetapi pastinya
mengasyikan berkemah di bawahnya. Aku mengelilingi pohon itu untuk
memastikannya aman. Aku memanjat pohon itu. Pohon itu juga memiliki dahan yang
enak dijadikan tempat berbaring. Aku terus memanjat memeriksa ke segala sisi
pohon itu. Tetapi aku tidak menemukan ulat satupun. Bagus! Aku masih memeriksa.
Di puncak pohon itu, terdapat banyak sarang burung. Tentunya pohon ini menjadi
persinggahan yang bagus bagi burung-burung sawah dan lainnya.
Aku tidak segera turun. Aku menuju
sebuah dahan besar dan cukup kuat yang menghadap ke arah sawah. Aku duduk di
sana dan memandangi sawah itu. Angin sepoi-sepoi begitu menenangkan dan aku
mulai merebahkan diri di dahan itu. Tanpa kusadari, aku pun tertidur.
Sementara
itu, Yudis masih berusaha mencari hewan-hewan air untuk difoto. Beberapa kali
ia gagal dan hal itu membuatnya kesal. Tetapi ternyata ia pantang menyerah.
Mungkin karena ia ingin aku memasakkan sup jamur untuknya sekaligus membalas
perbuatanku tadi pagi. Hari sudah agak siang. Kira-kira jam sebelas. Yudis
sudah berhasil mendapatkan foto serangga air, ikan, bahkan udang air tawar. Ia
menghembuskan nafas ketika berhasil mendapatkan foto itu. Tetapi ia masih belum
puas sebelum mendapatkan foto kepiting yang tadi ia temui. Sebenarnya ia sempat
mengambil foto kepiting itu, tetapi hasilnya kurang jelas karena kepiting itu
tersamar bebatuan sementara itu memotret dari jarak yang cukup jauh.
Yudis berjalan ke tempat ia
menemukan kepiting itu. Ia sampai ke sebuah air terjun kecil di utara. Ia mulai
mencari-cari kepiting itu. Akhirnya ia menemukan empat ekor sedang berjemur di
sebuah batu di tengah sungai. Wah, hebat, pikirnya. Ia mengendap-endap menuju batu
besar itu. Tetapi karena letaknya di tengah sungai, terpaksa celananya sedikit
basah.
Ketika dirasa cukup dekat, Yudis
menengok. Untunglah kepiting itu belum lari. Segera ia mengarahkan kameranya
sebelum terlambat. Sayangnya, ketika ia akan mengambil gambar, Rizky berteriak
dari belakang memanggilnya. Yudis kaget dan menoleh sehingga gambarnya menjadi
rusak kembali. Yudis kaget dan sangat kesal. Kepiting itu sudah pada lari,
tetapi masih satu tertinggal. Yudis memberi isyarat kepada Rizky untuk diam.
Yudis mengendap-endap perlahan menuju sisi dimana kepiting itu masih
berjemur. Segera ia mengarahkan kameranya dan akhirnya ia berhasil menangkap
gambar kepiting itu. Yudis kembali menuju pinggir sungai dan Rizky
menghampirinya. Yudis menunjukan wajah kesal.
“Kau ini seperti monyet hutan! Tidak
bisakah kau diam, padahal tadi itu ada banyak kepitingnya dan mereka lari
semua. Untunglah aku berhasil mengambil gambarnya satu.”
“Hehe, maaf. Aku tidak tahu kau akan
mengambil gambar kepiting itu. Setidaknya satu saja sudah cukup kan?”
“Nanti dulu. Kalau kualitasnya
jelek, kau yang akan mengambil gambar kepitingnya.” Kata Yudis.
Yudis mengutak-atik kameraku mencari
gambar kepiting yang tadi difotonya. Hasilnya, gambar itu memiliki kualitas
yang memuaskan. Yudis puas dengan pekerjaannya.
“Syukurlah. Akhirnya aku berhasil.”
Kata Yudis. “Hei, Ki. Jam berapa ini?”
“Sudah jam setengah dua belas.”
“Yeah! Sekarang Komang akan
membalasnya dan membuatkanku sup jamur!” Seru Yudis sambil mengacungkan kepalan
tangan penuh kemenangan.
“Sup jamur?” Tanya Rizky.
“Ya. Aku bertaruh kepadanya kalau
pekerjaanku selesai sebelum jam dua belas siang, dia akan membuatkanku sup
jamur.”
“Wah, sepertinya bagus. Seharusnya
ia juga membuatkanku sup jamur karena menurutku yang sudah kuteliti tentang
tumbuhan cukup banyak.” Kata Rizky sambil menunjukkan hasil penelitiannya.
“Wah, ini sih sudah banyak. Cukupkan
saja. Ini cukup kok untuk mendeskripsikan ekosistem tumbuhan di sini. Kau
benar-benar hebat!” Seru Yudis kaget melihat penelitian Rizky yang mencakup
hingga dua lembar kertas.
“Ya, sekarang dimana Komang? Masa
dia selama ini? Sudah dua sejak ia memeriksa tempat kemah baru kita.”
“Kita coba mencari di perkemahan.
Mungkin dia ada di sana.” Ajak Yudis.
Mereka segera menuju kemah untuk
melihatku yang sebenarnya masih tertidur di dahan pohon yang sejuk itu.
Sesampai di kemah, tentu saja mereka kebingungan karena aku tidak ada di sana.
Mereka mencari ke setiap sisi di sekitar kemah, tetapi masih tidak menemukanku.
Mereka jadi bingung.
“Dimana lagi ini si Mangkuk?
Menghilang saja dia.” Kata Yudis.
“Mungkin dia mencari kita. Bagaimana
bila kita kembali mencarinya?”
“Tetapi kita sudah melewati jalur
sungai dan tak menjumpainya.” Kata Yudis heran.
“Mungkin dia melewati jalur hutan.
Kita coba saja cari.”
“Baik. Kau ke utara, dan aku ke
selatan.”
“Jangan! Sebaiknya seefisien mungkin.
Kita dari tadi hanya meneliti di daera utara, kan? Jadi kita coba saja cari di
daerah utara. Dia sudah tau itu kok. Sekarang kau mencari di seberang, aku di
sini.”
“Baiklah. Semoga saja ia tidak
tersesat.
Mereka memulai pencarian. Rizky
berpikir bahwa aku pasti bingung mencari mereka, karena tidak mungkin aku
tersesat sementara aku yang paling mengenal daerah ini diantara mereka bertiga.
Yudis menyeberangi jembatan bambu
dan mulai mencari di seberang. Mereka terus mencari kedalam hutan, tetapi tentu
saja mereka tidak menemukanku. Mereka jadi semakin bingung dan khawatir.
Akhirnya mereka memutuskan untuk memeriksa tempat aku mengecek lokasi kemah
baru kami.
Sementara
itu, aku sudah terbangun dan matahari sudah sangat tinggi. Aku kaget dan segera
turun. Matahari sepertinya sudah menunjukkan sekitar pukul dua belas. Aku
bergegas kembali ke kemah untuk memberitahu Yudis dan Rizky bahwa aku telah
menemukan lokasi bagus.
Aku
sudah memasuki hutan dan menuruni bukit menuju kemah. Aku berlari pelan dan akhirnya
sampailah aku di kemah, tetapi keadaan sepi. Aku berpikir, bahwa mereka masih
meneliti sehingga aku tidak begitu panik. Malahan senang karena aku tidak jadi
membuatkan sup jamur untuk Yudis.
Aku
duduk sebentar sambil meneguk air minum untuk menyegarkan kerongkonganku yang
seperti sudah menjadi gurun tandus. Setelahnya aku pun berdiri untuk mencari
mereka. Aku melewati jalur hutan dan mencari-cari jejak keberadaan mereka.
Tetapi anehnya, aku tidak menemukan mereka. Aku bingung. Aku mengira mereka sudah
selesai lalu menuju kemah dan melewati jalur sungai.
Aku
segera menyusul kembali ke kemah, kini melewati jalur sungai. Sesampai di sana,
aku semakin terheran-heran karena mereka tetap lenyap dari pandangan. Aku jadi
was-was kalau-kalau mereka sudah selesai dan mencariku. Itu artinya aku harus
menunggu mereka untuk waktu yang lama sampai mereka menyerah. Atau mencari
mereka secepat mungkin untuk menghemat waktu. Atau aku kalah dan harus
membuatkan Yudis sup jamur. Aku benar-benar bingung.
-Revan