Sunday, 6 March 2016

The Camp - The First Journey Eps.9

9. Pengganggu dan Membantu

            Aku berlari berusaha menerobos semak belukar dan rintangan lainnya. Entah kenapa aku benar-benar merasa takut saat itu dan ingin pergi dari sana secepatnya. Kudaki tebing terjal air terjun itu dan berlari terus hingga sampai ke perkemahan dengan nafas naik-turun. Di sana tidak ada siapa-siapa. Aku duduk sebentar sambil meneguk air segar. Rasanya tubuhku yang memanas itu mendadak dingin dialiri sejuknya air itu. Aku melihat sekeliling dan tampak di kejauhan tertutup semak dan pepohonan Rizky sedang duduk sambil memegang sesuatu.


            Aku bangun dan hendak menghampiri Rizky, namun aku dihalangi suara seruan yang aku kenal. Aku menoleh dan benar saja. Datanglah si pengganggu ini. Agus dan komplotan gengnya, Yudi dan Rendra.

            “Woi! Sedang apa kamu!?” Seru mereka menggunakan bahasa daerahku.

            Aku berusaha menjawab dengan setenang mungkin agar percakapan ini tidak berlangsung lebih lama.

            “Aku dan temanku sedang mengerjakan tugas. Agar lebih mudah, kami berkemah di sini. Kalian sendiri sedang apa?”

            “Berkemah? Ya, aku tahu kok kamu yang kaya begitu.” Kata Agus sambil turun dan berjalan ke arahku.

            “Memang kenapa?” Aku mulai kesal. “Kau tidak senang? Mau kubelikan tenda satu.”

            “Kau bodoh! Memang aku semudah itu terayu oleh tawaran jahatmu? Aku kan bukan orang bodoh. Lagi pula, siapa juga yang mau menerimanya?” Jawab Agus sambil mengambil tongkat pramukaku.

            Yudi dan Rendra mulai ikut-ikutan dan membongkar isi barang-barang kami. Yudi mengambil panci dan sedot.

            “Dimana kau beli ini, Mang?” Tanyanya.

            “Tentu saja di toko.” Jawabku yang mulai semakin kesal ketika melihat Yudi memukul-mukul dengan keras panci kami menggunakan sedot sehingga menimbulkan bunyi nyaring yang keras dan berisik.

            “Ya, toko apa? Bunyinya bagus. Enak untuk main gong (Gong : Ansambel alat music tradisional daerahku). Peralatanmu sebaiknya buat gong saja.” Kata Rendra sambil mengambil panci lainnya yang lalu dibawa berkeliling sambil dipukul-pukul.

            “Hei! Taruh itu! Enak saja kalian main gong dengan peralatan dapur yang masih dipakai. Apa kalian tidak tahu aturan?” Tegurku sambil menahan marah lalu merebut kembali panci dan sedot dari tangan Yudi.

            “Oh, ok saja. Kalau tidak boleh di pakai.” Katanya.

            Aku menaruh panci dan sedot itu di kembali ke dalam tenda. Yudi malah ikut masuk dan berseru keras-keras.

            “Wues! Tahu kok, yang super kaya punya tenda sebagus ini.”

            Aku berusaha tak mengacuhkannya. Ketika aku hendak keluar, matanya melirik dokumen berisi catatan penelitianku.

            “Hei! Apa ini?”

            “Tugasku.”

            “Kok keren sekolahmu isi tugas saat liburan? Wah, payah! Aku bisa buat yang lebih bagus. Hah? Aku maklum kok, kau buat kurang menarik karena sekarang ini masa liburan jadi kau malas mengerjakannya.” Katanya sambil membawa semua dokumen kami keluar.

            Aku hampir terjatuh karena Yudi menabrakku saat keluar. Aku semakin kesal dan pergi keluar. Aku melihat Yudi memperlihatkan dokumen itu kepada Rendra.

            “Waduh! Apaan ini? Kau menghilangkan pemandang alam ini Yudi! Buang itu!” Kata Rendra sambil melempar catatanku itu. Aku marah melihat perbuatannya yang tidak menghargai kepunyaan orang lain itu.

            “Hei! Seenaknya saja kalian. Itu catatanku!” Bentakku sambil memungut semuanya.

           Agus muncul dari belakang sambil membawa tongkat pramukaku yang sedari tadi dipakai memukul-mukul pohon layaknya pendekar kung fu. Ia mendekatiku dari belakang dan memukul pelan kepalaku ke depan.

            “Biasakan saja ya?” Katanya.

          Amarahku meluap dan secara refleks aku berbalik sehingga sekejap saja, tongkat pramuka berpindah tangan dari Agus ke tanganku. Aku menggenggam tongkat pramuka dengan erat dan mengarahkan ujungnya kepada Agus seolah mengancam. Agus mundur kebelakang sementara Rendra yang kembali memukul-mukul panci seperti orang gila berhenti memperhatikan. Yudi pun kaget, tetapi ia tetap berdiri di tempat.

            “Wow, wow… Santai, Mang. Komang kan baik. Mana mungkin mengajak berkelahi orang-orang seperti kami?” Kata Agus sambil mengangkat tangan.

            “Bisa saja. Jangan anggap remeh ya.” Kataku sambil mendekatkan ujung tongkat lebih dekat kepada Agus. “Sekarang kalian pergi! Jangan ganggu pekerjaanku. Kalian masih bisa melakukan sesuatu yang lebih baik.”

            “Aes! Biasakan saja ya, kalau berbicara.” Kata Agus sambil memperlihatkan mimik wajah mengejek.

            “Pergi, atau tidak?!” Kataku semakin marah.

            “Baiklah, baiklah. Kita pergi saja. Kau boleh taruh tongkatmu itu. Nah, begitu baru Komang baik. Ayo, Yudi, Rendra. Kita pulang. Sebaiknya kita jangan ganggu Mangkuk yang mudah marah dan kuat ini.” Katanya sambil menatapku licik.

            Aku berusaha mengabaikannya ketika dia memanggilku dengan nama ejekanku di sekolah. Saat itu, Rizky hanya menatap dari kejauhan. Ketika Agus dan temannya pergi, barulah ia mendekat.

            “Kenapa tadi? Kau berkelahi dengan mereka?” Tanyanya.

            “Mereka tetanggaku. Tetanggaku yang nakal. Mereka mempermainkan peralatan berkemah kita. Lihatlah, panci ini sampai penyok dipukul si Yudi. Untung saja aku masih bisa menahan marah.”

            Kami membereskan barang-barang yang ditinggalkan Agus dan temannya begitu saja. Aku meminum segelas air dan duduk di sebuah batu besar.

            “Bagaimana pengamatanmu?” Tanyaku.

            “Yah, aku masih mengamati tumbuhan di sini. Tampaknya sangat beragam. Tapi aku tidak yakin aku tahu pasti nama semua tumbuhan di sini. Tapi aku sudah mengaturnya.”

            “Bagaimana dengan Yudis?”

            “Aku sudah memberikan catatan penelitianmu padanya. Dia menerimanya dan sekarang sedang berkelana di utara sungai mencari-cari bagain yang belum di foto. Kau sendiri bagaimana? Bagaimana dengan air terjun di sana?”

            “Yah, kalau kau tahu. Ternyata kakek itu memang benar. Bagian sana mungkin memang sedikit tenget (Tenget : Angker dalam bahasa daerahku) karena dekat dengan kuburan dan pohon beringin. Mungkin kita coba tempat yang di sarankan kakek itu.”

            “Kau periksa saja sana. Aku akan melanjutkan meneliti. Kau sebaiknya berangkat sekarang.”

            Aku berangkat menuju tempat yang disarankan kakek tadi untuk berkemah. Aku pergi ke utara untuk mencari-cari jembatan yang dimaksud si Kakek. Aku menemukannya. Aku juga melihat Yudis yang sedang duduk di balik batu sambil mengarahkan kameraku ke air.

            “Hei, Yudis!” Seruku.

            Yudis kaget dan langsung mendongak. Tetapi, sesaat kemudian ia menunjukkan wajah kesal.

            “Bisa kau tenang sedikit? Lihatlah! Ikannya jadi kabur semua! Padahal sudah susah aku mencari kesempatan dari tadi.”

            “Hehe… Maaf. Kau sudah dapat foto-fotonya?”

            “Tentu saja belum! Tapi aku menemukan hewan baru. Kepiting. Aku sempat memotretnya meski kurang jelas. Jadi aku akan mencarinya lagi nanti. Kau mau kemana?”

            Aku menceritakan pengalamanku tadi kecuali tentang perkelahianku dengan tetanggaku. Yudis mengangguk mengerti.

            “Ya sudah. Kau pergi saja. Kalau kau mau kau ambil kamera ini jika kau menemukan burung-burung dan jangkrik atau belalang atau apalah itu.”

            “Mungkin kau saja membawanya. Aku hanya akan memeriksa. Kau kerjakan saja pemotretanmu. Kau kan juga susah mencarinya.” Jawabku.

            “Hmmm…benar juga sih. Susah mencari kesempatan bagus. Ikan-ikan bergerak dengan cepat. Tampaknya mereka sudah sangat waspada terhadap manusia yang datang.”

            “Ayo, kau cepat kerjanya. Jangan selambat kau bangun, ya?” Kataku sambil menyindir lalu berlari menghindari tendangannya yang tiba-tiba melayang ke kakiku. Aku tertawa dan Yudis terlihat kesal, tetapi setengah tertawa.

            “Hei, kau ini sialan! Sudah membangunkanku dengan cara salah, kau masih berani membuka mulut kotor itu!” Katanya sambil menunjuk ke arahku.

            “Hei hei, maafkan aku Tuan Yudis. Tetapi sebaiknya anda bekerja cepat saja. Aku memang masih ingin melihat kekasaran yang dilakukan Tuan.” Kataku sambil bergaya layaknya pelayan.

            “Macam-macam kau! Nanti saja kau dapat balasannya, bung!”

            “Hehe, sudahlah. Lagi pula kau memang harus bekerja cepat sedikit. Waktu kita kan tinggal sedikit. Ayo, jangan menggunakan jurus siputmu!” Sindirku sambil tertawa.

            “Ok, Mang! Ok! Lihat saja nanti ya! Aku akan menunjukkan kemampuanku! Kalau aku berhasil, kau harus buatkan aku sup jamur!”

            “Ok, sip! Kutunggu!” Kataku sambil menunjukkan jempol.

            Aku kembali melanjutkan perjalanan mendaki bukit hingga sampai di puncak. Aku bejalan lurus dan ketika keluar, ternyata aku sudah berada di sebuah tanah datar dan di sebelahnya ada padang berumput pendek.

            Aku berjalan dan hampir saja aku terjatuh karena kaget. Karena ternyata aku sudah berada di atas sebuah terbing yang cukup tinggi. Kira-kira setinggi dua meter dan di bawahnya terbentang sawah yang sangat luas jauh kedepan seakan tak berujung. Tepat di sisi tebing itu, ada sebatang pohon tumbuh dengan rindang. Aku tercengang menyaksikan sapaan indah itu. Aku benar-benar tak menyangka daerah tempat tinggalku akan seasyik ini.



-Revan


0 komentar:

resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut

Post a Comment

Silahkan yang ingin berkomentar. Tetapi mohon menggunakan bahasa yang sopan dan santun agar tidak menyinggung perasaan.