9. Pengganggu dan Membantu
Aku berlari berusaha menerobos semak
belukar dan rintangan lainnya. Entah kenapa aku benar-benar merasa takut saat
itu dan ingin pergi dari sana secepatnya. Kudaki tebing terjal air terjun itu
dan berlari terus hingga sampai ke perkemahan dengan nafas naik-turun. Di sana
tidak ada siapa-siapa. Aku duduk sebentar sambil meneguk air segar. Rasanya
tubuhku yang memanas itu mendadak dingin dialiri sejuknya air itu. Aku melihat
sekeliling dan tampak di kejauhan tertutup semak dan pepohonan Rizky sedang
duduk sambil memegang sesuatu.
Aku bangun dan hendak menghampiri
Rizky, namun aku dihalangi suara seruan yang aku kenal. Aku menoleh dan benar
saja. Datanglah si pengganggu ini. Agus dan komplotan gengnya, Yudi dan Rendra.
“Woi! Sedang apa kamu!?” Seru mereka
menggunakan bahasa daerahku.
Aku berusaha menjawab dengan
setenang mungkin agar percakapan ini tidak berlangsung lebih lama.
“Aku dan temanku sedang mengerjakan
tugas. Agar lebih mudah, kami berkemah di sini. Kalian sendiri sedang apa?”
“Berkemah? Ya, aku tahu kok kamu
yang kaya begitu.” Kata Agus sambil turun dan berjalan ke arahku.
“Memang kenapa?” Aku mulai kesal.
“Kau tidak senang? Mau kubelikan tenda satu.”
“Kau bodoh! Memang aku semudah itu
terayu oleh tawaran jahatmu? Aku kan bukan orang bodoh. Lagi pula, siapa juga
yang mau menerimanya?” Jawab Agus sambil mengambil tongkat pramukaku.
Yudi dan Rendra mulai ikut-ikutan
dan membongkar isi barang-barang kami. Yudi mengambil panci dan sedot.
“Dimana kau beli ini, Mang?”
Tanyanya.
“Tentu saja di toko.” Jawabku yang
mulai semakin kesal ketika melihat Yudi memukul-mukul dengan keras panci kami
menggunakan sedot sehingga menimbulkan bunyi nyaring yang keras dan berisik.
“Ya, toko apa? Bunyinya bagus. Enak
untuk main gong (Gong : Ansambel alat music tradisional daerahku). Peralatanmu
sebaiknya buat gong saja.” Kata Rendra sambil mengambil panci lainnya yang lalu
dibawa berkeliling sambil dipukul-pukul.
“Hei! Taruh itu! Enak saja kalian
main gong dengan peralatan dapur yang masih dipakai. Apa kalian tidak tahu
aturan?” Tegurku sambil menahan marah lalu merebut kembali panci dan sedot dari
tangan Yudi.
“Oh, ok saja. Kalau tidak boleh di
pakai.” Katanya.
Aku menaruh panci dan sedot itu di
kembali ke dalam tenda. Yudi malah ikut masuk dan berseru keras-keras.
“Wues! Tahu kok, yang super kaya
punya tenda sebagus ini.”
Aku berusaha tak mengacuhkannya.
Ketika aku hendak keluar, matanya melirik dokumen berisi catatan penelitianku.
“Hei! Apa ini?”
“Tugasku.”
“Kok keren sekolahmu isi tugas saat
liburan? Wah, payah! Aku bisa buat yang lebih bagus. Hah? Aku maklum kok, kau
buat kurang menarik karena sekarang ini masa liburan jadi kau malas
mengerjakannya.” Katanya sambil membawa semua dokumen kami keluar.
Aku hampir terjatuh karena Yudi
menabrakku saat keluar. Aku semakin kesal dan pergi keluar. Aku melihat Yudi
memperlihatkan dokumen itu kepada Rendra.
“Waduh! Apaan ini? Kau menghilangkan
pemandang alam ini Yudi! Buang itu!” Kata Rendra sambil melempar catatanku itu.
Aku marah melihat perbuatannya yang tidak menghargai kepunyaan orang lain itu.
“Hei! Seenaknya saja kalian. Itu
catatanku!” Bentakku sambil memungut semuanya.
Agus muncul dari belakang sambil
membawa tongkat pramukaku yang sedari tadi dipakai memukul-mukul pohon layaknya
pendekar kung fu. Ia mendekatiku dari belakang dan memukul pelan kepalaku ke
depan.
“Biasakan saja ya?” Katanya.
Amarahku meluap dan secara refleks
aku berbalik sehingga sekejap saja, tongkat pramuka berpindah tangan dari Agus
ke tanganku. Aku menggenggam tongkat pramuka dengan erat dan mengarahkan
ujungnya kepada Agus seolah mengancam. Agus mundur kebelakang sementara Rendra
yang kembali memukul-mukul panci seperti orang gila berhenti memperhatikan.
Yudi pun kaget, tetapi ia tetap berdiri di tempat.
“Wow, wow… Santai, Mang. Komang kan
baik. Mana mungkin mengajak berkelahi orang-orang seperti kami?” Kata Agus
sambil mengangkat tangan.
“Bisa saja. Jangan anggap remeh ya.”
Kataku sambil mendekatkan ujung tongkat lebih dekat kepada Agus. “Sekarang
kalian pergi! Jangan ganggu pekerjaanku. Kalian masih bisa melakukan sesuatu
yang lebih baik.”
“Aes! Biasakan saja ya, kalau
berbicara.” Kata Agus sambil memperlihatkan mimik wajah mengejek.
“Pergi, atau tidak?!” Kataku semakin
marah.
“Baiklah, baiklah. Kita pergi saja.
Kau boleh taruh tongkatmu itu. Nah, begitu baru Komang baik. Ayo, Yudi, Rendra.
Kita pulang. Sebaiknya kita jangan ganggu Mangkuk yang mudah marah dan kuat
ini.” Katanya sambil menatapku licik.
Aku berusaha mengabaikannya ketika
dia memanggilku dengan nama ejekanku di sekolah. Saat itu, Rizky hanya menatap
dari kejauhan. Ketika Agus dan temannya pergi, barulah ia mendekat.
“Kenapa tadi? Kau berkelahi dengan
mereka?” Tanyanya.
“Mereka tetanggaku. Tetanggaku yang
nakal. Mereka mempermainkan peralatan berkemah kita. Lihatlah, panci ini sampai
penyok dipukul si Yudi. Untung saja aku masih bisa menahan marah.”
Kami membereskan barang-barang yang
ditinggalkan Agus dan temannya begitu saja. Aku meminum segelas air dan duduk
di sebuah batu besar.
“Bagaimana pengamatanmu?” Tanyaku.
“Yah, aku masih mengamati tumbuhan
di sini. Tampaknya sangat beragam. Tapi aku tidak yakin aku tahu pasti nama
semua tumbuhan di sini. Tapi aku sudah mengaturnya.”
“Bagaimana dengan Yudis?”
“Aku sudah memberikan catatan
penelitianmu padanya. Dia menerimanya dan sekarang sedang berkelana di utara
sungai mencari-cari bagain yang belum di foto. Kau sendiri bagaimana? Bagaimana
dengan air terjun di sana?”
“Yah, kalau kau tahu. Ternyata kakek
itu memang benar. Bagian sana mungkin memang sedikit tenget (Tenget : Angker
dalam bahasa daerahku) karena dekat dengan kuburan dan pohon beringin. Mungkin
kita coba tempat yang di sarankan kakek itu.”
“Kau periksa saja sana. Aku akan
melanjutkan meneliti. Kau sebaiknya berangkat sekarang.”
Aku berangkat menuju tempat yang
disarankan kakek tadi untuk berkemah. Aku pergi ke utara untuk mencari-cari
jembatan yang dimaksud si Kakek. Aku menemukannya. Aku juga melihat Yudis yang
sedang duduk di balik batu sambil mengarahkan kameraku ke air.
“Hei, Yudis!” Seruku.
Yudis kaget dan langsung mendongak.
Tetapi, sesaat kemudian ia menunjukkan wajah kesal.
“Bisa kau tenang sedikit? Lihatlah!
Ikannya jadi kabur semua! Padahal sudah susah aku mencari kesempatan dari
tadi.”
“Hehe… Maaf. Kau sudah dapat foto-fotonya?”
“Tentu saja belum! Tapi aku
menemukan hewan baru. Kepiting. Aku sempat memotretnya meski kurang jelas. Jadi
aku akan mencarinya lagi nanti. Kau mau kemana?”
Aku menceritakan pengalamanku tadi
kecuali tentang perkelahianku dengan tetanggaku. Yudis mengangguk mengerti.
“Ya sudah. Kau pergi saja. Kalau kau
mau kau ambil kamera ini jika kau menemukan burung-burung dan jangkrik atau
belalang atau apalah itu.”
“Mungkin kau saja membawanya. Aku
hanya akan memeriksa. Kau kerjakan saja pemotretanmu. Kau kan juga susah
mencarinya.” Jawabku.
“Hmmm…benar juga sih. Susah mencari
kesempatan bagus. Ikan-ikan bergerak dengan cepat. Tampaknya mereka sudah
sangat waspada terhadap manusia yang datang.”
“Ayo, kau cepat kerjanya. Jangan
selambat kau bangun, ya?” Kataku sambil menyindir lalu berlari menghindari
tendangannya yang tiba-tiba melayang ke kakiku. Aku tertawa dan Yudis terlihat
kesal, tetapi setengah tertawa.
“Hei, kau ini sialan! Sudah
membangunkanku dengan cara salah, kau masih berani membuka mulut kotor itu!”
Katanya sambil menunjuk ke arahku.
“Hei hei, maafkan aku Tuan Yudis.
Tetapi sebaiknya anda bekerja cepat saja. Aku memang masih ingin melihat
kekasaran yang dilakukan Tuan.” Kataku sambil bergaya layaknya pelayan.
“Macam-macam kau! Nanti saja kau
dapat balasannya, bung!”
“Hehe, sudahlah. Lagi pula kau
memang harus bekerja cepat sedikit. Waktu kita kan tinggal sedikit. Ayo, jangan
menggunakan jurus siputmu!” Sindirku sambil tertawa.
“Ok, Mang! Ok! Lihat saja nanti ya!
Aku akan menunjukkan kemampuanku! Kalau aku berhasil, kau harus buatkan aku sup
jamur!”
“Ok, sip! Kutunggu!” Kataku sambil
menunjukkan jempol.
Aku kembali melanjutkan perjalanan
mendaki bukit hingga sampai di puncak. Aku bejalan lurus dan ketika keluar,
ternyata aku sudah berada di sebuah tanah datar dan di sebelahnya ada padang
berumput pendek.
Aku berjalan dan hampir saja aku
terjatuh karena kaget. Karena ternyata aku sudah berada di atas sebuah terbing
yang cukup tinggi. Kira-kira setinggi dua meter dan di bawahnya terbentang sawah
yang sangat luas jauh kedepan seakan tak berujung. Tepat di sisi tebing itu,
ada sebatang pohon tumbuh dengan rindang. Aku tercengang menyaksikan sapaan indah
itu. Aku benar-benar tak menyangka daerah tempat tinggalku akan seasyik ini.
-Revan







0 komentar:
Post a Comment
Silahkan yang ingin berkomentar. Tetapi mohon menggunakan bahasa yang sopan dan santun agar tidak menyinggung perasaan.