Sunday, 28 February 2016

The Camp - The First Journey Eps.8


8. Kuburan dan Jalan

Kami bangkit dan bermaksud kembali ke tenda. Kami mendaki tebing air terjun. Jalannya sangat sukar dan curam. Jadi tentunya jarang yang keluar masuk sini. Akar-akar pohon yang tersembul keluar menjadi pegangan kami agar tidak jatuh. Bajuku dan Yudis basah sehingga menambah beban kami. Rizky sampai di puncak dengan cepat dan melambaikan tangan.


Kami berjalan menyusuri sungai dan sampailah kami di jembatan bambu. Kini kami benar-benar berhati-hati. Lebih waspada dari pada tadi agar tidak terjatuh ke arus yang masih mengamuk. Untunglah kami selamat sampai ke tenda kami.

Sampai di sana, aku dan Yudis mengeringkan badan dan mengganti baju. Kasihan Yudis. Ia yang paling sering mengganti baju sehingga persediaan bajunya berkurang meski masih cukup untuk dua hari kedepan. Rizky yang paling hemat dan belum pernah sama sekali mengganti bajunya.

“Kapan kita pindah? Pertama kita harus meneliti tumbuhan juga, kan?” Tanya Yudis.

“Hmm… nanti sore saja. Sekarang kita lanjutkan penelitian di daerah sini.” Kataku.

“Coba saja kita boleh menulis ‘di sana-sini ditumbuhi tumbuhan lebat dan asri’ pasti gampang.” Kata Yudis mengeluh.

“Siapa bilang tidak boleh? Tentu saja boleh. Tapi kujamin hasilnya jelek dan kita akan dikomentari oleh Bu Sri. Kau tau kan, jika ia sekali berkomentar bisa banyak-banyak. Nanti malah terlalu lama.” Kata Rizky.

Kami ingat ketika tugas penelitian menggunakan mikroskop dua bulan lalu. Itu adalah penelitian terakhir yang kami lakukan sebelum penelitian ini. Kelompok kami saat itu terdiri dari aku, Yudis, Jerry dan Wira. Kami meneliti sel bawang. Tetapi saat akan mengeluarkan mikroskop dari kotaknya, Jerry melakukan kesalahan membawa sehingga diomeli oleh Bu Sri. Kesalahan kecil itu pun diomeli hingga sekitar lima menit atau mungkin lebih lama dan ditambahi oleh bumbu pedas lain dengan kesalahan temanku mengatur lensa.

Hal yang serupa juga terjadi pada kami saat penelitian pada indikator alami. Bu Sri memarahi kami satu kelas hingga jam pelajaran habis karena saat kami menyusun naskah diketahui bahwa kami hanya menggunakan indikator dalam jumlah sedikit dan naskah yang sangat buruk. Bu Sri memang sudah tua, tetapi ia sangat semangat mengajar meski sedikit galak. Kami tidak ingin hal itu terulang karena itu kami berusaha sebisa mungkin menghasilkan penelitian dan naskah yang baik (menurut Bu Sri).

“Ya sudah, kita harus teliti tumbuhan. Aku tidak ingin kena marah Bu Sri.” Kataku.

Kami ngeri mengingat hal-hal pahit saat pelajaran IPA. Meski sebenarnya kadang Bu Sri menyenangkan juga saat mengajar. Namun, mengingat saat penelitian indikator kami lalu, kami akhirnya terbelalak dan teringat akan sesuatu yang penting dan kami lewatkan.

“Foto!” Seru kami serentak.

“Astaga! Kita lupa mengambil gambar untuk pengamatan kita!” Kata Rizky.

Kami berpandangan dengan wajah aneh yang mencerminkan kekecewaan.

“Huh, intinya kita mengulang dari awal lagi. Aku kembali harus mencari ikan-ikan lalu kufoto dan serangga-serangga air.” Kata Yudis mendengus.

Kami berpikir untuk menyelesaikan masalah ini seefisien mungkin karena kami sudah malas untuk mengulang pengamatan kembali. Entah apa yang membuat kami malas, tetapi kami merasa tidak mempunyai kekuatan dan hanya ingin bersenang-senang.

“Kita pikirkan itu nanti. Sekarang aku mau mandi. Kalian ikut?” Kata Rizky.

“Tunggu! Rizky, kau akan mandi. Saat itu, tolong kau tanyakan pada ibuku untuk meminjamkan kamera digital ayahku dan kakakku. Jadi nanti kita berbagi tugas. Kau ikut ekstra biologi, kan? Kau mengamati tumbuhan dan memotretnya sedangkan aku dan Yudis akan mencari-cari bahan penelitian kita yang terlewatkan untuk difoto.” Kataku.

“Baiklah. Kedengarannya ide bagus. Tapi apa kalian tidak ikut mandi? Air sungai itu kan agak kotor meski kelihatan jernih.”

“Baiklah. Kita pulang bersama-sama saja. Atau, aku dan Yudis dahulu yang mandi sebelum kami kena iritasi kulit. Kau jaga kemah dulu ya, Ki.”

“Hah, dasar. Baiklah, cepat sana.”

Aku dan Yudis mengambil handuk dan pakaian kotor kami untuk dicuci. Setelah itu kami berangkat dan pulang untuk mandi. Sesampai di rumah, keadaan sepi seperti biasa. Hanya kakekku, ibuku dan anjing-anjingku yang ada di rumah. Bapakku sudah pasti bekerja. Tetapi aku heran karena kakaku tidak ada.

“Kakakmu pergi ke sekolah untuk latihan teater.” Kata ibuku.

Memang jadwal klub teater kakakku di sekolah kini padat karena aka nada pementasan. Aku dan Yudis mandi di kamar mandi berbeda. Kami mandi dengan air dingin dan setelahnya badan kami pun segar kembali. Ibu bertanya tentang kemah kami.

“Seru sekali. Kemarin kami melihat kunang-kunang. Banyak sekali dan burung hantu yang menyambar tikus di depan mataku. Keren dan misterius!” Kataku bersemangat. Tetapi aku sengaja tidak menceritakan saat aku dan Yudis terseret arus agar ibu tidak khawatir dan melarang kami.

“Ya, hutan itu kedengarannya memang menyenangkan. Kita harap hutan kecil itu tetap lestari. Bagaimana dengan persediaan makananmu?” Kata ibuku.

“Ah, masih banyak kok. Kami tidak apa-apa hanya makan itu. Lagipula kami tidak punya waktu untuk memasak banyak-banyak. Oh iya. Bu, boleh aku pinjam kamera ayah dan kakak? Kami lupa mengambil gambar untuk tugasnya dan kami juga harus berpencar untuk mencari gambar.”

“Ya, ambil saja. Kalau tidak salah di lemari kaca itu.”

Aku dan Yudis mengambil kedua kamera itu. Untunglah kamera itu memiliki kualitas gambar yang sama meski resolusinya berbeda. Kami kembali ke tenda kami dan Rizky segera berangkat ke rumahku. Aku memberikan kamera kepada Yudis dan menyuruhnya untuk mencari ikan-ikan dan serangga air yang kami temukan sebelumnya untuk difoto.

“Jangan sampai kena air.” Kataku.

Yudis pun berangkat dan aku sendiri di kemah sambil membaca catatan tentang penelitian kami. Saat aku asyik membaca, tiba-tiba lewatlah salah satu kakek yang akan mencari kayu.

“Sedang apa di sini?”

“Ya, kek. Kami sedang berkemah sementara di sini untuk tugas penelitian sekolah. Kami meneliti ekosistem di daerah sini.” Jawabku.

“Bukankah sudah libur? Liburan ada tugas. Mana bisa begitu.”

“Ya, kek. Mungkin tujuannya agar kami tidak main-main saja selama liburan.” Kataku.

“Kalau mau berkemah, di seberang sana ada tebing dekat dengan sawah. Di sana daerahnya bagus. Kalau kalian suka, pindahlah ke sana.”

“Terima kasih, kek. Tapi kami berencana untuk pindah ke air terjun yang ada di selatan.”

“Wah, jangan di sana. Terlalu tertutup. Lagi pula kalau malam-malam di sana akan menyeramkan. Di sana juga dekat kuburan. Lebih baik ke tempat yang kakek sarankan. Nah, selamat tinggal.”

Aku memperhatikan kakek itu berjalan ke utara. Tiba-tiba ia berbalik.

“Kalau ingin menyeberang, jangan lewat jembatan bambu yang di selatan. Kau akan melalui jalur yang sempit. Lebih baik ke utara. Di sana ada jembatan bambu pula. Arah utara lebih aman daripada selatan.”

“Baiklah. Terima kasih, kek.”

Aku termenung. Sepertinya yang dikatakan si Kakek memang benar. Tapi aku ingin melihat lokasi tempat pindah kami dulu. Memang tempat itu lebih tertutup karena masuk ke dalam hutan. Tetapi aku tidak tahu ada kuburan di sana dan aku tidak melihatnya. Karena itu aku ingin memastikannya dahulu.

Beberapa saat kemudian, Rizky datang dengan kondisi yang lebih bersih. Aku menceritakan percakapan aku dengan kakek tadi. Rizky juga sependapat untuk memeriksa dahulu tempat itu dan akulah yang akan memeriksa.

Aku memberikan kamera kepada Rizky dan juga catatan pengamatan bagianku.

“Tolong berikan ini kepada Yudis. Jadi kalau ia sudah selesai memotret hewan airnya, dia bisa memotret bagianku.”

Setelah itu aku bergegas ke arah selatan, menyeberangi jembatan bambu dan menuruni tebing air terjun yang tidak begitu dalam. Sesampaiku di bawah, aku memeriksa keadaan. Saat ini aku benar-benar merasa seperti di alam bebas. Aku pergi ke padang rumput tempat rencana pindah kami.

Padangnya tidak terlalu besar. Letaknya di tengah hutan. Rumputnya tidak terlalu tinggi meski tumbuh liar. Saat itulah aku mulai ragu kalau di situ aman. Mungkin saja ada binatang buas seperti ular yang tinggal di dekat situ. Aku berkeliling, tetapi aku tidak menemukan kuburan. Aku semakin masuk ke selatan dan tanpa sangka aku keluar dari hutan dan di depanku terdapat padang rumput lebar dan jalan raya yang sepi di depannya.

Mulanya aku bingun ini dimana. Tetapi aku baru sadar kalau ini sudah jauh dari rumahku. Dan inilah kuburan yang dimaksud kakek itu (Di daerahku, kuburan tidak disertai batu nisan. Tetapi mayat dibakar sampai jadi abu dan ditanam di padang terbuka. Orang-orang daerahku sudah tahu membedakan padang yang merupakan kuburan dan padang biasa). Aku jadi merinding untuk pindah di lokasi ini. Segera aku kembali masuk ke hutan sebelum dilihat orang lain dan kembali ke kemah.

Aku akan menceritakan hal itu kepada Yudis dan Rizky lalu mengecek tempat yang disarankan kakek itu. Kalau bagus, mungkin kami pindah ke sana.


-Revan


0 komentar:

resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut

Post a Comment

Silahkan yang ingin berkomentar. Tetapi mohon menggunakan bahasa yang sopan dan santun agar tidak menyinggung perasaan.