8. Kuburan dan Jalan
Kami
bangkit dan bermaksud kembali ke tenda. Kami mendaki tebing air terjun.
Jalannya sangat sukar dan curam. Jadi tentunya jarang yang keluar masuk sini.
Akar-akar pohon yang tersembul keluar menjadi pegangan kami agar tidak jatuh.
Bajuku dan Yudis basah sehingga menambah beban kami. Rizky sampai di puncak
dengan cepat dan melambaikan tangan.
Kami
berjalan menyusuri sungai dan sampailah kami di jembatan bambu. Kini kami
benar-benar berhati-hati. Lebih waspada dari pada tadi agar tidak terjatuh ke
arus yang masih mengamuk. Untunglah kami selamat sampai ke tenda kami.
Sampai
di sana, aku dan Yudis mengeringkan badan dan mengganti baju. Kasihan Yudis. Ia
yang paling sering mengganti baju sehingga persediaan bajunya berkurang meski
masih cukup untuk dua hari kedepan. Rizky yang paling hemat dan belum pernah
sama sekali mengganti bajunya.
“Kapan
kita pindah? Pertama kita harus meneliti tumbuhan juga, kan?” Tanya Yudis.
“Hmm…
nanti sore saja. Sekarang kita lanjutkan penelitian di daerah sini.” Kataku.
“Coba
saja kita boleh menulis ‘di sana-sini ditumbuhi tumbuhan lebat dan asri’ pasti gampang.”
Kata Yudis mengeluh.
“Siapa
bilang tidak boleh? Tentu saja boleh. Tapi kujamin hasilnya jelek dan kita akan
dikomentari oleh Bu Sri. Kau tau kan, jika ia sekali berkomentar bisa
banyak-banyak. Nanti malah terlalu lama.” Kata Rizky.
Kami
ingat ketika tugas penelitian menggunakan mikroskop dua bulan lalu. Itu adalah
penelitian terakhir yang kami lakukan sebelum penelitian ini. Kelompok kami
saat itu terdiri dari aku, Yudis, Jerry dan Wira. Kami meneliti sel bawang.
Tetapi saat akan mengeluarkan mikroskop dari kotaknya, Jerry melakukan
kesalahan membawa sehingga diomeli oleh Bu Sri. Kesalahan kecil itu pun diomeli
hingga sekitar lima menit atau mungkin lebih lama dan ditambahi oleh bumbu
pedas lain dengan kesalahan temanku mengatur lensa.
Hal
yang serupa juga terjadi pada kami saat penelitian pada indikator alami. Bu Sri
memarahi kami satu kelas hingga jam pelajaran habis karena saat kami menyusun
naskah diketahui bahwa kami hanya menggunakan indikator dalam jumlah sedikit
dan naskah yang sangat buruk. Bu Sri memang sudah tua, tetapi ia sangat semangat
mengajar meski sedikit galak. Kami tidak ingin hal itu terulang karena itu kami
berusaha sebisa mungkin menghasilkan penelitian dan naskah yang baik (menurut
Bu Sri).
“Ya
sudah, kita harus teliti tumbuhan. Aku tidak ingin kena marah Bu Sri.” Kataku.
Kami
ngeri mengingat hal-hal pahit saat pelajaran IPA. Meski sebenarnya kadang Bu
Sri menyenangkan juga saat mengajar. Namun, mengingat saat penelitian indikator
kami lalu, kami akhirnya terbelalak dan teringat akan sesuatu yang penting dan
kami lewatkan.
“Foto!”
Seru kami serentak.
“Astaga!
Kita lupa mengambil gambar untuk pengamatan kita!” Kata Rizky.
Kami
berpandangan dengan wajah aneh yang mencerminkan kekecewaan.
“Huh,
intinya kita mengulang dari awal lagi. Aku kembali harus mencari ikan-ikan lalu
kufoto dan serangga-serangga air.” Kata Yudis mendengus.
Kami
berpikir untuk menyelesaikan masalah ini seefisien mungkin karena kami sudah
malas untuk mengulang pengamatan kembali. Entah apa yang membuat kami malas,
tetapi kami merasa tidak mempunyai kekuatan dan hanya ingin bersenang-senang.
“Kita
pikirkan itu nanti. Sekarang aku mau mandi. Kalian ikut?” Kata Rizky.
“Tunggu!
Rizky, kau akan mandi. Saat itu, tolong kau tanyakan pada ibuku untuk
meminjamkan kamera digital ayahku dan kakakku. Jadi nanti kita berbagi tugas.
Kau ikut ekstra biologi, kan? Kau mengamati tumbuhan dan memotretnya sedangkan
aku dan Yudis akan mencari-cari bahan penelitian kita yang terlewatkan untuk
difoto.” Kataku.
“Baiklah.
Kedengarannya ide bagus. Tapi apa kalian tidak ikut mandi? Air sungai itu kan
agak kotor meski kelihatan jernih.”
“Baiklah.
Kita pulang bersama-sama saja. Atau, aku dan Yudis dahulu yang mandi sebelum
kami kena iritasi kulit. Kau jaga kemah dulu ya, Ki.”
“Hah,
dasar. Baiklah, cepat sana.”
Aku
dan Yudis mengambil handuk dan pakaian kotor kami untuk dicuci. Setelah itu
kami berangkat dan pulang untuk mandi. Sesampai di rumah, keadaan sepi seperti
biasa. Hanya kakekku, ibuku dan anjing-anjingku yang ada di rumah. Bapakku
sudah pasti bekerja. Tetapi aku heran karena kakaku tidak ada.
“Kakakmu
pergi ke sekolah untuk latihan teater.” Kata ibuku.
Memang
jadwal klub teater kakakku di sekolah kini padat karena aka nada pementasan.
Aku dan Yudis mandi di kamar mandi berbeda. Kami mandi dengan air dingin dan
setelahnya badan kami pun segar kembali. Ibu bertanya tentang kemah kami.
“Seru
sekali. Kemarin kami melihat kunang-kunang. Banyak sekali dan burung hantu yang
menyambar tikus di depan mataku. Keren dan misterius!” Kataku bersemangat.
Tetapi aku sengaja tidak menceritakan saat aku dan Yudis terseret arus agar ibu
tidak khawatir dan melarang kami.
“Ya,
hutan itu kedengarannya memang menyenangkan. Kita harap hutan kecil itu tetap
lestari. Bagaimana dengan persediaan makananmu?” Kata ibuku.
“Ah,
masih banyak kok. Kami tidak apa-apa hanya makan itu. Lagipula kami tidak punya
waktu untuk memasak banyak-banyak. Oh iya. Bu, boleh aku pinjam kamera ayah dan
kakak? Kami lupa mengambil gambar untuk tugasnya dan kami juga harus berpencar
untuk mencari gambar.”
“Ya,
ambil saja. Kalau tidak salah di lemari kaca itu.”
Aku
dan Yudis mengambil kedua kamera itu. Untunglah kamera itu memiliki kualitas
gambar yang sama meski resolusinya berbeda. Kami kembali ke tenda kami dan
Rizky segera berangkat ke rumahku. Aku memberikan kamera kepada Yudis dan menyuruhnya
untuk mencari ikan-ikan dan serangga air yang kami temukan sebelumnya untuk
difoto.
“Jangan
sampai kena air.” Kataku.
Yudis
pun berangkat dan aku sendiri di kemah sambil membaca catatan tentang
penelitian kami. Saat aku asyik membaca, tiba-tiba lewatlah salah satu kakek
yang akan mencari kayu.
“Sedang
apa di sini?”
“Ya,
kek. Kami sedang berkemah sementara di sini untuk tugas penelitian sekolah.
Kami meneliti ekosistem di daerah sini.” Jawabku.
“Bukankah
sudah libur? Liburan ada tugas. Mana bisa begitu.”
“Ya,
kek. Mungkin tujuannya agar kami tidak main-main saja selama liburan.” Kataku.
“Kalau
mau berkemah, di seberang sana ada tebing dekat dengan sawah. Di sana daerahnya
bagus. Kalau kalian suka, pindahlah ke sana.”
“Terima
kasih, kek. Tapi kami berencana untuk pindah ke air terjun yang ada di
selatan.”
“Wah,
jangan di sana. Terlalu tertutup. Lagi pula kalau malam-malam di sana akan
menyeramkan. Di sana juga dekat kuburan. Lebih baik ke tempat yang kakek
sarankan. Nah, selamat tinggal.”
Aku
memperhatikan kakek itu berjalan ke utara. Tiba-tiba ia berbalik.
“Kalau
ingin menyeberang, jangan lewat jembatan bambu yang di selatan. Kau akan
melalui jalur yang sempit. Lebih baik ke utara. Di sana ada jembatan bambu
pula. Arah utara lebih aman daripada selatan.”
“Baiklah.
Terima kasih, kek.”
Aku
termenung. Sepertinya yang dikatakan si Kakek memang benar. Tapi aku ingin
melihat lokasi tempat pindah kami dulu. Memang tempat itu lebih tertutup karena
masuk ke dalam hutan. Tetapi aku tidak tahu ada kuburan di sana dan aku tidak
melihatnya. Karena itu aku ingin memastikannya dahulu.
Beberapa
saat kemudian, Rizky datang dengan kondisi yang lebih bersih. Aku menceritakan
percakapan aku dengan kakek tadi. Rizky juga sependapat untuk memeriksa dahulu
tempat itu dan akulah yang akan memeriksa.
Aku
memberikan kamera kepada Rizky dan juga catatan pengamatan bagianku.
“Tolong
berikan ini kepada Yudis. Jadi kalau ia sudah selesai memotret hewan airnya,
dia bisa memotret bagianku.”
Setelah
itu aku bergegas ke arah selatan, menyeberangi jembatan bambu dan menuruni
tebing air terjun yang tidak begitu dalam. Sesampaiku di bawah, aku memeriksa
keadaan. Saat ini aku benar-benar merasa seperti di alam bebas. Aku pergi ke
padang rumput tempat rencana pindah kami.
Padangnya
tidak terlalu besar. Letaknya di tengah hutan. Rumputnya tidak terlalu tinggi
meski tumbuh liar. Saat itulah aku mulai ragu kalau di situ aman. Mungkin saja ada
binatang buas seperti ular yang tinggal di dekat situ. Aku berkeliling, tetapi aku
tidak menemukan kuburan. Aku semakin masuk ke selatan dan tanpa sangka aku keluar
dari hutan dan di depanku terdapat padang rumput lebar dan jalan raya yang sepi
di depannya.
Mulanya
aku bingun ini dimana. Tetapi aku baru sadar kalau ini sudah jauh dari rumahku.
Dan inilah kuburan yang dimaksud kakek itu (Di daerahku, kuburan tidak disertai
batu nisan. Tetapi mayat dibakar sampai jadi abu dan ditanam di padang terbuka.
Orang-orang daerahku sudah tahu membedakan padang yang merupakan kuburan dan padang
biasa). Aku jadi merinding untuk pindah di lokasi ini. Segera aku kembali masuk
ke hutan sebelum dilihat orang lain dan kembali ke kemah.
Aku
akan menceritakan hal itu kepada Yudis dan Rizky lalu mengecek tempat yang disarankan
kakek itu. Kalau bagus, mungkin kami pindah ke sana.
-Revan







0 komentar:
Post a Comment
Silahkan yang ingin berkomentar. Tetapi mohon menggunakan bahasa yang sopan dan santun agar tidak menyinggung perasaan.