Cahaya Murni Sebuah Desa
Ruang gelap nan dalam, hanya setitik cahaya
bersinar
Terang mengikis bayang-bayang jauh kedepan
Meredup tak seimbang, ditutupi bayang-bayang liar
merajalela
Namun bersinar kembali, lurus memecah nun jauh
kedepan
Membelah dua bagian di dasar ruang hampa
Membentuk titik cahaya baru, dari bawah ke
atas
Bergerak perlahan, mengikuti cahaya pertama
Bersinar menghilangkan keringat dingin
Di dalam hati sebuah pikiran
Bersinar
terang tuk waktu yang lama
…………………………………..
Angin berhembus dari jendela hingga
menutup. Suara membangunkan Andi dari tidurnya. Segera ia membenahi tempat
tidur dan membuka jendela membiarkan cahaya hangat dari timur menghangatkan
keadaan ruangannya yang berantakan oleh buku-buku berserakan. Wajahnya berseri-seri
dan seperti mendapat tenaga tambahan, secepat kilat ia merapikan kamarnya,
membereskan tasnya, mengganti baju dan segera menuju ruang tengah untuk
sarapan.
Andi adalah anak SMP yang sangat
pintar dan tinggal di desa yang dipenuhi penduduk miskin. Kepintarannya sangat
terkenal bahkan saat masih SD, ia sering menjuarai olimpiade dan lomba-lomba
nasional, bahkan internasional. Hal itu menyebabkan ia mendapat uang saku yang
sangat banyak dan menjadi penopang kedua beban keluarganya yang miskin. Ayahnya
sudah lama meninggal karena sakit dan sempat menimbulkan luka di hati Andi.
Tetapi ayahnya memberinya pesan yang akhirnya membakar semangatnya lagi.
Di desanya banyak tinggal anak-anak
miskin yang tidak melanjutkan sekolah untuk menopang beban keluarga. Tetapi,
tidak semua dari mereka rajin. Ada yang hanya bermain bola saja, tetapi ada
juga yang bekerja keras mencari nafkah meski tidak melanjutkan sekolah. Orang
tua mereka banyak yang sudah lanjut usia sehingga dalam mencari penghidupan
sangat susah. Keadaannya sangat memprihatinkan. Hanya Andi dari desanya yang
melanjutkan sekolah dan bisa dibilang “terlalu” pandai untuk teman-temannya,
bahkan teman-teman dari luar desa untuk bidang matematika, fisika, dan kimia
meski bisa dikatakan ia “ketinggalan zaman”. Namun, meskipun ia sangat pintar,
ia tidak sombong. Ia mempunyai sifat yang sangat baik dan senang menolong orang
jika membutuhkan bantuan.
Hari ini adalah hari pertamanya
masuk SMP, dan ia tidak sabar untuk itu. Kemarin malam ia sudah belajar sangat
keras hingga tengah malam tentang materi-materi SMP, terutama matematika, kimia
dan fisika atau bahkan materi yang ia pelajari adalah materi SMA. Sarapan
paginya hanya dua buah roti dan susu kedelai. Segera setelahnya ia berpamitan
dan mengayuh sepeda ke sekolah. Ibunya memperhatikan kepergian anak sulungnya
dari jauh, berharap ia akan maju lebih jauh karena ia termasuk orang penting di
desanya.
Perlahan, matahari berjalan ke atas
langit dan menyemburkan sinar panas menyengat, tetapi tak menyurutkan semangat orang-orang
untuk bekerja mencari nafkah. Akhirnya Andi pulang dan orang-orang
mengerumuninya, bertanya tentang sekolahnya. Andi menceritakan apa yang ia
alami.
“Di sana banyak murid-murid yang
kaya dan tampaknya mereka semua pandai. Tetapi, saat pemilihan ekstrakurikuler,
ada nama yang belum pernah kudengar sebelumnya. Seperti ekstra TIK dan KIR.”
“Apa itu? Apa mungkin gerakan untuk
membantu rakyat miskin?” Kata seorang anak kecil.
“Bukan, bukan. Mungkin maksudnya itu
TIKKIR. Jadi….” Tambah seorang pemuda.
“Baiklah, tenang saja. Besok akan
ada pengenalan terhadap ekstrakurikuler itu. Jadi kita akan tahu jawabannya
besok.” Kata Andi buru-buru menghindari mulut-mulut yang masih ingin bertanya.
Seperti biasa, saat sampai rumah ia
disambut ibu dan adik perempuannya dan mereka menanyakan tentang sekolahnya.
Andi pun duduk beristirahat sambil bercerita. Setelah makan siang, ia mengambil
beberapa buku matematika, fisika dan kimia lalu naik sebuah pohon dan di sana,
ia membaca bukunya. Namun selang beberapa lama, ia berhenti dan memikirkan
tentang pilihan akan ekstranya. Tentu ia ingin ekstra matematika, tetapi ia
ingin tahu seperti apa ekstra TIK dan KIR yang baru ia dengar itu.
Keesokan harinya, seperti biasa ia
bersemangat. Bangun pagi-pagi, sarapan, dan langsung bersepeda ke sekolahnya
yang tiga mil jauhnya. Seperti biasa, keluarganya berharap agar ia semakin jauh
maju dan anak-anak yang kemarin bertanya berharap mendapatkan jawabannya.
Setelah siang, ia pulang dengan
mimik mencerminkan sedang berpikir. Segera, orang-orang mengerumuninya dan anak
yang bertanya kemarin kembali menanyakan tentang TIK dan KIR.
“TIK itu ternyata pelajaran yang
berhubungan dengan komputer. Mengutak-atik komputer dan mempelajari
komponennya. Sedangkan KIR itu adalah pelajaran yang mendidik siswanya untuk
menghasilkan sebuah karya ilmiah yang bermanfaat. Tetapi tidak sebatas gerobak
atau topi saja. Mungkin seperti topi yang berisi pendingin di dalamnya dan
skateboard listrik. Aku bingung karena semuanya terlihat menarik.” Jelas Andi.
Yang lain bertanya kembali tetapi
dengan mimik yang masih menunjukkan berpikir, Andi melangkah perlahan menuju
rumahnya tak mengacuhkan kepala-kepala yang masih ingin bertanya.
Sesampai di rumahnya, seperti biasa
ia disambut ibu dan adiknya yang menanyakan tentang sekolahnya. Andi
menceritakan yang ia alami di sekolah termasuk tentang Ekstra yang baru ia
kenal itu.
“Aku sekarang menjadi bingung, bu.
Ekstra TIK menarik. Bahkan aku sempat mengikuti beberapa sosialisasinya dan gurunya
sangat hebat membuatku cepat mengerti. Aku juga senang mengutak-atik komputer.
Tapi…”
“Andi! Aku tidak ingin kau
menghabiskan uangmu untuk duduk di depan komputer. Kita ini bahkan tidak mampu
membeli komputer meski kau punya tabungan yang besar jumlahnya, tapi ibu tidak
setuju.” Kata ibunya.
“Iya sih, tapi ekstra KIR, juga
menarik, dan… ya ampun banyak sekali yang menarik, ibu. Aku sangat bingung
memilihnya.”
Andi tidak berkata lagi dan sebelum
ibunya sempat mengeluarkan sebuah kata, Andi sudah berlari ke luar dengan
segenggam uang sakunya. Kini rasa ingin tahunya meledak-ledak dan ia bersepeda
ke kota untuk membeli buku tentang KIR, TIK, dan lain-lain.
Lusanya setelah ia pulang sekolah,
Andi tampak lesu dan menggumam kepada dirinya sendiri. Ia benar-benar bingung
tentang ekstra yang akan ia pilih sementara besok para siswa sudah harus
mencantumkan ekstra yang akan dipilih.
Warga mengerumuninya dan
bertanya-tanya, tetapi Andi tidak mengacuhkannya dan terus berjalan ke arah
rumahnya. Ibunya bertanya mengapa ia semurung itu. Andi menjatuhkan dirinya ke
kursi kayu.
“Ibu… aku sangat bingung. Ekstra
biologi juga menarik sekali. Fisika pun menarik. Matematika juga menarik. Aku
bingung sekali!”
“Andi, ibu tahu kau bingung. Tetapi
kau harus yakin pada dirimu. Ibu menyarankan kau ikut ekstra matematika kembali
dan melanjutkan hobimu dengan angka. Tetapi kalau kau punya pilihan lain,
silahkan saja.” Kata ibunya lembut.
“Tapi, jika aku ikut KIR, aku bisa
belajar membuat sesuatu. Tapi, jika tidak ikut matematika… Argh!”
Andi langsung berlari mengunci diri
di kamar. Ibunya cemas karena sejak SMP, perkembangan belajarnya memburuk. Ia
tidak pernah belajar matematika, fisika dan kimia lagi. Ia membaca banyak
buku-buku TIK dan KIR tetapi ia lebih banyak bergumam dan menghayal jauh. Ia
yakin jika begini terus kemampuan Andi akan menurun jauh. Ibunya pun memutuskan
untuk membiarkannya sebentar.
Saat ibunya terbangun dari tidur
siang, ibunya sadar jika Andi masih mengunci diri dan belum makan. Ia segera
menuju kamarnya untuk memanggilnya. Namun, begitu pintu diketuk, pintu langsung
terbuka dan menunjukkan kamar yang kosong. Ibunya terkejut dan menanyakan anak
perempuannya dimanakah kakaknya. Adiknya menjawab kalau kakaknya keluar dan
berlari ke timur ke daerah hutan.
Ibunya yang cukup pandai menanggapi
keadaan sadar bahwa Andi terlalu bingung hingga kabur dari rumah. Ia ingin
mengejar namun, datanglah Pak Kepala Desa menanyakan kabar Andi yang tingkah
lakunya mulai aneh sejak SMP. Ibunya dengan sangat cemas menceritakan yang
terjadi dan pak kepala desa berpikir.
“Jadi, dia terlalu bingung?”
Tanyanya.
“Iya, pak. Ia terlalu memikirkannya
sampai ia lupa makan, lupa belajar, bahkan ia tidak perhatian lagi dan jarang
menolong orang lain. Dan sekarang, ia kabur dari rumah.”
“Kalau begitu, biarkan saja ia dulu
sendiri.” Kata Pak Kepala Desa yang tiba-tiba tersenyum. “Di pikirannya hanya
sedang terjadi konflik. Saya akui dia adalah anak yang sangat pintar dan bisa
berpikir, jadi saya yakin dia akan segera mengambil keputusan. Mari saja kita
berharap yang terbaik karena saya sudah menganggap ia sebagai orang penting di
desa kita yang miskin ini.” Kata Pak Kepala Desa.
Ibunya masih belum tenang dan berdoa
agar Andi secepatnya kembali dan mencerahkan desanya. Hingga malam Andi belum
pulang dan seisi kampung cemas.
“Kakak belum pulang hingga sekarang,
Bu. Bagaimana ini?” Tanya adiknya.
“Tidak apa-apa sayang. Ia hanya
perlu berpikir sebentar. Biarkan dia sendiri dahulu. Sudah larut malam, kau
harus tidur.” Kata ibunya yang sebenarnya masih cemas.
Keesokan paginya, Andi terbangun di
atas sebuah pohon di hutan. Ia memetik buah dan memakannya. Lalu ia berjalan
kembali tak tentu arah dan tujuan. Pikirannya sedang kalut. Baru kali inilah
dia bolos sekolah. Ia sampai di sebuah desa tetangga di balik bukit. Ia melihat
penduduknya bekerja keras dan terjadilah kembali konflik di kepalanya. Dia
menendang batu dan berteriak keras, berusaha berpikir waras.
Ia teringat akan pesan ayahnya yang
ditulis di sebuah surat :
“Hai jagoanku. Kau sudah tumbuh
besar sekarang. Aku sangat bangga kepadamu dan hasil usahamu. Maafkan ayah
karena sepertinya ayah sudah tidak kuasa melawan kelumpuhan ini. Tetapi, ayah
ingin mengingatkanmu sesuatu. Belajarlah yang banyak agar kau semakin maju dan
menjadi orang yang sukses. Tetapi, ingatlah hal yang penting ini. Jangan kau
menjadi takabur dan melupakan keluarga yang sudah membesarkanmu dan teman-teman
yang menemanimu. Di desamu, banyak orang kesusahan. Bantulah mereka jika
memerlukan pertolongan dalam bekerja dan jika kau menjadi sukses, bantulah
desamu agar menjadi sebuah cahaya terang seperti dirimu ini………….”
“Argghh!
Tapi kenapa, di dunia ini ada banyak pilihan menyesatkan pikiran! Bisa kau
jawab?! Kenapa!? Bahkan sekarang pun itu semua seperti setan yang berusaha
meracuni pikiranku!” Teriak Andi sambil memaki-maki dengan maksud berbicara ke
ayahnya yang berada di dunia yang berbeda darinya.
Tiba-tiba, seperti sebuah jawaban,
ia melihat bayangan ayahnya di depannya yang mengatakan salah satu lanjutan
dari suratnya.
“Dunia ini bukanlah hanya desamu
ataupun negerimu. Ada banyak daerah jauh terpapar di sana dan masih ada banyak
jalan akan menunggumu. Ku yakin kau akan mampu melaluinya sendiri dan memilih
jalanmu sendiri. Tetapi mohon ingatlah ini. Teman adalah harta yang sangat
berharga. Biarpun mereka melecehkan atau mengkhianatimu, kau janganlah
mengkhianati mereka karena kau akan mengkhianati dirimu sendiri. Jadi, ketika
seseorang membutuhkan bantuan, kau janganlah berpaling.”
Seperti disambar kilat, Andi
terkejut dan di pikiran Andi muncul pemikiran baru.
“Di luar sana ada banyak orang
yang kesusahan. Lebih susah dari dirimu atau bahkan lebih susah daripada desa
kita. Mereka adalah orang yang tidak mampu. Kau tentu tidak ingin mengalami
kesedihan seperti mereka. Jika kau mampu melakukannya, ku yakin hal itu akan
sangat berharga.”
Ucapan bayangan sang Ayah
menimbulkan kesan yang mendalam pada Andi. Ia menunduk dan menggenggam
tangannya erat-erat.
“Setelah aku pergi, kuharap kau memahaminya.
Aku akan mengawasimu dan melihat apa yang kau lakukan. Aku akan memberitahu ini
terus dan terus jika kau mulai salah langkah. Terima kasih sudah menjadi
anakku. Salam ayahmu.”
Andi berjalan pelan, tetapi ke arah
desanya. Ia menatap orang-orang yang bekerja dengan giat di desa tetangganya
itu.
“Menolong orang, huh?” Katanya
sambil terus menatap. Ia terus melanjutkan jalan menuju desanya.
Sesampai di desanya, tidak ada orang
di luar dan hari sudah cukup larut. Ia langsung masuk ke rumahnya dan
mengagetkan ibunya yang sedang merenung. Ibunya segera berdiri dan memeluk Andi
sambil menangis karena cemas.
“Kau bodoh, Andi! Kau bisa memilih
ekstra kesukaanmu, tetapi… jangan sampai kau melakukan hal ini! Bodohnya kau!”
Kata ibunya sambil terisak-isak.
“Maafkan aku, Bu. Tetapi, aku sudah
memutuskan ekstra yang aku pilih, jadi ibu dan yang lain tidak perlu khawatir
lagi.” Kata Andi yang kembali membuat ibunya terkejut. “Aku yakin ini pilihan
yang sangat tepat. Aku akan mengikuti ekstra Fisika. Aku akan membuat
barang-barang yang mungkin akan sangat berguna di desa ini. Lalu aku akan
kembali fokus di matematika dan kimia untuk masa depanku. Ya, aku ingin menjadi
seorang peneliti yang menghasilkan penelitian bermanfaat untuk semuanya. Semua
orang termasuk lingkungan.” Jawab Andi tegas.
Ibunya sangat senang melihat
putranya sudah memutuskan keinginannya, bahkan untuk masa depannya pula. Andi
nyengir ke ibunya melihat ibunya menangis. Lalu muncullah adiknya.
“Kakak! Kau sudah pulang! Apa-apaan
kau ini. Lihatlah, semua orang sangat cemas akan dirimu!” Hal itu membuat Andi
tergagap-gagap dan meminta maaf dengan malu. “Kau sungguh membuatku cemas.
Sebagai gantinya, aku ingin es krim coklat! Pergi dan belikan aku itu!”
“Ah, aku sudah menyangka kau akan
berkata itu. Jadi, aku sudah mempersiapkannya. Lihat?” Kata Andi yang lalu
mengeluarkan es krim coklat kesukaan adiknya dari kantong celananya.
Adiknya menangis dan memukul-mukul
kakaknya karena terharu. Pulangnya Andi benar-benar membuat seisi desa heboh.
Mereka menyebarkan desas-desus, apa yang terjadi di pikiran Andi.
Keesokan
harinya, Andi melanjutkan sekolahnya dan ia kembali menjadi bintang sekolah. Ia
menciptakan banyak barang untuk warga desanya seperti gerobak, serok dan
mengajarkan teman-temannya banyak hal. Ia juga senang membantu siapa saja yang
memerlukan bantuan. Ia benar-benar menjalin sebuah persahabatan yang sangat
baik.
Beberapa tahun kemudian, ia berdoa
kepada ayahnya sebelum tidur.
“Ayah. Aku mematuhi perintahmu. Aku berusaha
sebisa mungkin menolong banyak orang dan sebentar lagi, aku akan masuk SMA. Aku
berpikir akan kembali mengikuti klub fisika agar keinginanku tercapai. Aku juga
semakin banyak mengikuti lomba-lomba dan menghasilkan uang lalu kubagi kepada
yang lain. Omong-omong, ayah benar. Ternyata dengan itu aku merasa bahagia.
Lebih bahagia daripada saat aku memenangkan sebuah lomba Internasional. Aku
mohon semoga ayah tetap mengawasiku hingga aku cukup dewasa dan menasehatiku
lagi ketika aku salah arah. Mungkin aku juga senang saat itu karena aku bisa
melihat bayanganmu lagi. Aku akan pergi tidur sekarang. Selamat malam….”
Andi menutup jendela dan pergi
ketempat tidur lalu merebahkan diri. Tapi sesaat kemudian, ia menatap jendela
lagi. Sinar bulan purnama terang masuk menerangi kamarnya.
“Oh
iya, aku lupa memberi tahu ayah satu hal lagi.” Katanya.
“Aku sudah berumur lima belas
tahun.”
…………………………………..
Ruang gelap nan dalam, hanya setitik cahaya
bersinar
Terang mengikis bayang-bayang jauh kedepan
Meredup tak seimbang, ditutupi bayang-bayang liar
merajalela
Namun bersinar kembali, lurus memecah nun
jauh kedepan
Membelah dua bagian di dasar ruang hampa
Membentuk titik cahaya baru, dari bawah ke
atas
Bergerak perlahan, mengikuti cahaya pertama
Bersinar menghilangkan keringat dingin
Di dalam hati sebuah pikiran
Bersinar
terang tuk waktu yang lama
Kepala Desa
- Revan







0 komentar:
Post a Comment
Silahkan yang ingin berkomentar. Tetapi mohon menggunakan bahasa yang sopan dan santun agar tidak menyinggung perasaan.