Tuesday, 16 February 2016

Cahaya Murni Sebuah Desa


Cahaya Murni Sebuah Desa


Ruang gelap nan dalam, hanya setitik cahaya bersinar

Terang mengikis bayang-bayang jauh kedepan

Meredup tak seimbang, ditutupi bayang-bayang liar merajalela

Namun bersinar kembali, lurus memecah nun jauh kedepan

Membelah dua bagian di dasar ruang hampa

Membentuk titik cahaya baru, dari bawah ke atas

Bergerak perlahan, mengikuti cahaya pertama

Bersinar menghilangkan keringat dingin

Di dalam hati sebuah pikiran

            Bersinar terang tuk waktu yang lama



…………………………………..

            Angin berhembus dari jendela hingga menutup. Suara membangunkan Andi dari tidurnya. Segera ia membenahi tempat tidur dan membuka jendela membiarkan cahaya hangat dari timur menghangatkan keadaan ruangannya yang berantakan oleh buku-buku berserakan. Wajahnya berseri-seri dan seperti mendapat tenaga tambahan, secepat kilat ia merapikan kamarnya, membereskan tasnya, mengganti baju dan segera menuju ruang tengah untuk sarapan.

            Andi adalah anak SMP yang sangat pintar dan tinggal di desa yang dipenuhi penduduk miskin. Kepintarannya sangat terkenal bahkan saat masih SD, ia sering menjuarai olimpiade dan lomba-lomba nasional, bahkan internasional. Hal itu menyebabkan ia mendapat uang saku yang sangat banyak dan menjadi penopang kedua beban keluarganya yang miskin. Ayahnya sudah lama meninggal karena sakit dan sempat menimbulkan luka di hati Andi. Tetapi ayahnya memberinya pesan yang akhirnya membakar semangatnya lagi.

            Di desanya banyak tinggal anak-anak miskin yang tidak melanjutkan sekolah untuk menopang beban keluarga. Tetapi, tidak semua dari mereka rajin. Ada yang hanya bermain bola saja, tetapi ada juga yang bekerja keras mencari nafkah meski tidak melanjutkan sekolah. Orang tua mereka banyak yang sudah lanjut usia sehingga dalam mencari penghidupan sangat susah. Keadaannya sangat memprihatinkan. Hanya Andi dari desanya yang melanjutkan sekolah dan bisa dibilang “terlalu” pandai untuk teman-temannya, bahkan teman-teman dari luar desa untuk bidang matematika, fisika, dan kimia meski bisa dikatakan ia “ketinggalan zaman”. Namun, meskipun ia sangat pintar, ia tidak sombong. Ia mempunyai sifat yang sangat baik dan senang menolong orang jika membutuhkan bantuan.

            Hari ini adalah hari pertamanya masuk SMP, dan ia tidak sabar untuk itu. Kemarin malam ia sudah belajar sangat keras hingga tengah malam tentang materi-materi SMP, terutama matematika, kimia dan fisika atau bahkan materi yang ia pelajari adalah materi SMA. Sarapan paginya hanya dua buah roti dan susu kedelai. Segera setelahnya ia berpamitan dan mengayuh sepeda ke sekolah. Ibunya memperhatikan kepergian anak sulungnya dari jauh, berharap ia akan maju lebih jauh karena ia termasuk orang penting di desanya.
 
            Perlahan, matahari berjalan ke atas langit dan menyemburkan sinar panas menyengat, tetapi tak menyurutkan semangat orang-orang untuk bekerja mencari nafkah. Akhirnya Andi pulang dan orang-orang mengerumuninya, bertanya tentang sekolahnya. Andi menceritakan apa yang ia alami.

            “Di sana banyak murid-murid yang kaya dan tampaknya mereka semua pandai. Tetapi, saat pemilihan ekstrakurikuler, ada nama yang belum pernah kudengar sebelumnya. Seperti ekstra TIK dan KIR.”

            “Apa itu? Apa mungkin gerakan untuk membantu rakyat miskin?” Kata seorang anak kecil.

            “Bukan, bukan. Mungkin maksudnya itu TIKKIR. Jadi….” Tambah seorang pemuda.

            “Baiklah, tenang saja. Besok akan ada pengenalan terhadap ekstrakurikuler itu. Jadi kita akan tahu jawabannya besok.” Kata Andi buru-buru menghindari mulut-mulut yang masih ingin bertanya.

            Seperti biasa, saat sampai rumah ia disambut ibu dan adik perempuannya dan mereka menanyakan tentang sekolahnya. Andi pun duduk beristirahat sambil bercerita. Setelah makan siang, ia mengambil beberapa buku matematika, fisika dan kimia lalu naik sebuah pohon dan di sana, ia membaca bukunya. Namun selang beberapa lama, ia berhenti dan memikirkan tentang pilihan akan ekstranya. Tentu ia ingin ekstra matematika, tetapi ia ingin tahu seperti apa ekstra TIK dan KIR yang baru ia dengar itu.

            Keesokan harinya, seperti biasa ia bersemangat. Bangun pagi-pagi, sarapan, dan langsung bersepeda ke sekolahnya yang tiga mil jauhnya. Seperti biasa, keluarganya berharap agar ia semakin jauh maju dan anak-anak yang kemarin bertanya berharap mendapatkan jawabannya.

            Setelah siang, ia pulang dengan mimik mencerminkan sedang berpikir. Segera, orang-orang mengerumuninya dan anak yang bertanya kemarin kembali menanyakan tentang TIK dan KIR.

            “TIK itu ternyata pelajaran yang berhubungan dengan komputer. Mengutak-atik komputer dan mempelajari komponennya. Sedangkan KIR itu adalah pelajaran yang mendidik siswanya untuk menghasilkan sebuah karya ilmiah yang bermanfaat. Tetapi tidak sebatas gerobak atau topi saja. Mungkin seperti topi yang berisi pendingin di dalamnya dan skateboard listrik. Aku bingung karena semuanya terlihat menarik.” Jelas Andi.

            Yang lain bertanya kembali tetapi dengan mimik yang masih menunjukkan berpikir, Andi melangkah perlahan menuju rumahnya tak mengacuhkan kepala-kepala yang masih ingin bertanya.
            Sesampai di rumahnya, seperti biasa ia disambut ibu dan adiknya yang menanyakan tentang sekolahnya. Andi menceritakan yang ia alami di sekolah termasuk tentang Ekstra yang baru ia kenal itu.

            “Aku sekarang menjadi bingung, bu. Ekstra TIK menarik. Bahkan aku sempat mengikuti beberapa sosialisasinya dan gurunya sangat hebat membuatku cepat mengerti. Aku juga senang mengutak-atik komputer. Tapi…”

            “Andi! Aku tidak ingin kau menghabiskan uangmu untuk duduk di depan komputer. Kita ini bahkan tidak mampu membeli komputer meski kau punya tabungan yang besar jumlahnya, tapi ibu tidak setuju.” Kata ibunya.

            “Iya sih, tapi ekstra KIR, juga menarik, dan… ya ampun banyak sekali yang menarik, ibu. Aku sangat bingung memilihnya.”

            Andi tidak berkata lagi dan sebelum ibunya sempat mengeluarkan sebuah kata, Andi sudah berlari ke luar dengan segenggam uang sakunya. Kini rasa ingin tahunya meledak-ledak dan ia bersepeda ke kota untuk membeli buku tentang KIR, TIK, dan lain-lain.

            Lusanya setelah ia pulang sekolah, Andi tampak lesu dan menggumam kepada dirinya sendiri. Ia benar-benar bingung tentang ekstra yang akan ia pilih sementara besok para siswa sudah harus mencantumkan ekstra yang akan dipilih.

            Warga mengerumuninya dan bertanya-tanya, tetapi Andi tidak mengacuhkannya dan terus berjalan ke arah rumahnya. Ibunya bertanya mengapa ia semurung itu. Andi menjatuhkan dirinya ke kursi kayu.

            “Ibu… aku sangat bingung. Ekstra biologi juga menarik sekali. Fisika pun menarik. Matematika juga menarik. Aku bingung sekali!”

            “Andi, ibu tahu kau bingung. Tetapi kau harus yakin pada dirimu. Ibu menyarankan kau ikut ekstra matematika kembali dan melanjutkan hobimu dengan angka. Tetapi kalau kau punya pilihan lain, silahkan saja.” Kata ibunya lembut.

            “Tapi, jika aku ikut KIR, aku bisa belajar membuat sesuatu. Tapi, jika tidak ikut matematika… Argh!”

            Andi langsung berlari mengunci diri di kamar. Ibunya cemas karena sejak SMP, perkembangan belajarnya memburuk. Ia tidak pernah belajar matematika, fisika dan kimia lagi. Ia membaca banyak buku-buku TIK dan KIR tetapi ia lebih banyak bergumam dan menghayal jauh. Ia yakin jika begini terus kemampuan Andi akan menurun jauh. Ibunya pun memutuskan untuk membiarkannya sebentar.
 
            Saat ibunya terbangun dari tidur siang, ibunya sadar jika Andi masih mengunci diri dan belum makan. Ia segera menuju kamarnya untuk memanggilnya. Namun, begitu pintu diketuk, pintu langsung terbuka dan menunjukkan kamar yang kosong. Ibunya terkejut dan menanyakan anak perempuannya dimanakah kakaknya. Adiknya menjawab kalau kakaknya keluar dan berlari ke timur ke daerah hutan.

            Ibunya yang cukup pandai menanggapi keadaan sadar bahwa Andi terlalu bingung hingga kabur dari rumah. Ia ingin mengejar namun, datanglah Pak Kepala Desa menanyakan kabar Andi yang tingkah lakunya mulai aneh sejak SMP. Ibunya dengan sangat cemas menceritakan yang terjadi dan pak kepala desa berpikir.

            “Jadi, dia terlalu bingung?” Tanyanya.

            “Iya, pak. Ia terlalu memikirkannya sampai ia lupa makan, lupa belajar, bahkan ia tidak perhatian lagi dan jarang menolong orang lain. Dan sekarang, ia kabur dari rumah.”

            “Kalau begitu, biarkan saja ia dulu sendiri.” Kata Pak Kepala Desa yang tiba-tiba tersenyum. “Di pikirannya hanya sedang terjadi konflik. Saya akui dia adalah anak yang sangat pintar dan bisa berpikir, jadi saya yakin dia akan segera mengambil keputusan. Mari saja kita berharap yang terbaik karena saya sudah menganggap ia sebagai orang penting di desa kita yang miskin ini.” Kata Pak Kepala Desa.

            Ibunya masih belum tenang dan berdoa agar Andi secepatnya kembali dan mencerahkan desanya. Hingga malam Andi belum pulang dan seisi kampung cemas.

            “Kakak belum pulang hingga sekarang, Bu. Bagaimana ini?” Tanya adiknya.

            “Tidak apa-apa sayang. Ia hanya perlu berpikir sebentar. Biarkan dia sendiri dahulu. Sudah larut malam, kau harus tidur.” Kata ibunya yang sebenarnya masih cemas.

            Keesokan paginya, Andi terbangun di atas sebuah pohon di hutan. Ia memetik buah dan memakannya. Lalu ia berjalan kembali tak tentu arah dan tujuan. Pikirannya sedang kalut. Baru kali inilah dia bolos sekolah. Ia sampai di sebuah desa tetangga di balik bukit. Ia melihat penduduknya bekerja keras dan terjadilah kembali konflik di kepalanya. Dia menendang batu dan berteriak keras, berusaha berpikir waras.

            Ia teringat akan pesan ayahnya yang ditulis di sebuah surat :

“Hai jagoanku. Kau sudah tumbuh besar sekarang. Aku sangat bangga kepadamu dan hasil usahamu. Maafkan ayah karena sepertinya ayah sudah tidak kuasa melawan kelumpuhan ini. Tetapi, ayah ingin mengingatkanmu sesuatu. Belajarlah yang banyak agar kau semakin maju dan menjadi orang yang sukses. Tetapi, ingatlah hal yang penting ini. Jangan kau menjadi takabur dan melupakan keluarga yang sudah membesarkanmu dan teman-teman yang menemanimu. Di desamu, banyak orang kesusahan. Bantulah mereka jika memerlukan pertolongan dalam bekerja dan jika kau menjadi sukses, bantulah desamu agar menjadi sebuah cahaya terang seperti dirimu ini………….”

            “Argghh! Tapi kenapa, di dunia ini ada banyak pilihan menyesatkan pikiran! Bisa kau jawab?! Kenapa!? Bahkan sekarang pun itu semua seperti setan yang berusaha meracuni pikiranku!” Teriak Andi sambil memaki-maki dengan maksud berbicara ke ayahnya yang berada di dunia yang berbeda darinya.

            Tiba-tiba, seperti sebuah jawaban, ia melihat bayangan ayahnya di depannya yang mengatakan salah satu lanjutan dari suratnya.

“Dunia ini bukanlah hanya desamu ataupun negerimu. Ada banyak daerah jauh terpapar di sana dan masih ada banyak jalan akan menunggumu. Ku yakin kau akan mampu melaluinya sendiri dan memilih jalanmu sendiri. Tetapi mohon ingatlah ini. Teman adalah harta yang sangat berharga. Biarpun mereka melecehkan atau mengkhianatimu, kau janganlah mengkhianati mereka karena kau akan mengkhianati dirimu sendiri. Jadi, ketika seseorang membutuhkan bantuan, kau janganlah berpaling.”

            Seperti disambar kilat, Andi terkejut dan di pikiran Andi muncul pemikiran baru.

“Di luar sana ada banyak orang yang kesusahan. Lebih susah dari dirimu atau bahkan lebih susah daripada desa kita. Mereka adalah orang yang tidak mampu. Kau tentu tidak ingin mengalami kesedihan seperti mereka. Jika kau mampu melakukannya, ku yakin hal itu akan sangat berharga.”

            Ucapan bayangan sang Ayah menimbulkan kesan yang mendalam pada Andi. Ia menunduk dan menggenggam tangannya erat-erat.

“Setelah aku pergi, kuharap kau memahaminya. Aku akan mengawasimu dan melihat apa yang kau lakukan. Aku akan memberitahu ini terus dan terus jika kau mulai salah langkah. Terima kasih sudah menjadi anakku. Salam ayahmu.”

            Andi berjalan pelan, tetapi ke arah desanya. Ia menatap orang-orang yang bekerja dengan giat di desa tetangganya itu.

            “Menolong orang, huh?” Katanya sambil terus menatap. Ia terus melanjutkan jalan menuju desanya.

            Sesampai di desanya, tidak ada orang di luar dan hari sudah cukup larut. Ia langsung masuk ke rumahnya dan mengagetkan ibunya yang sedang merenung. Ibunya segera berdiri dan memeluk Andi sambil menangis karena cemas.

            “Kau bodoh, Andi! Kau bisa memilih ekstra kesukaanmu, tetapi… jangan sampai kau melakukan hal ini! Bodohnya kau!” Kata ibunya sambil terisak-isak.

            “Maafkan aku, Bu. Tetapi, aku sudah memutuskan ekstra yang aku pilih, jadi ibu dan yang lain tidak perlu khawatir lagi.” Kata Andi yang kembali membuat ibunya terkejut. “Aku yakin ini pilihan yang sangat tepat. Aku akan mengikuti ekstra Fisika. Aku akan membuat barang-barang yang mungkin akan sangat berguna di desa ini. Lalu aku akan kembali fokus di matematika dan kimia untuk masa depanku. Ya, aku ingin menjadi seorang peneliti yang menghasilkan penelitian bermanfaat untuk semuanya. Semua orang termasuk lingkungan.” Jawab Andi tegas.

            Ibunya sangat senang melihat putranya sudah memutuskan keinginannya, bahkan untuk masa depannya pula. Andi nyengir ke ibunya melihat ibunya menangis. Lalu muncullah adiknya.

            “Kakak! Kau sudah pulang! Apa-apaan kau ini. Lihatlah, semua orang sangat cemas akan dirimu!” Hal itu membuat Andi tergagap-gagap dan meminta maaf dengan malu. “Kau sungguh membuatku cemas. Sebagai gantinya, aku ingin es krim coklat! Pergi dan belikan aku itu!”

            “Ah, aku sudah menyangka kau akan berkata itu. Jadi, aku sudah mempersiapkannya. Lihat?” Kata Andi yang lalu mengeluarkan es krim coklat kesukaan adiknya dari kantong celananya.

            Adiknya menangis dan memukul-mukul kakaknya karena terharu. Pulangnya Andi benar-benar membuat seisi desa heboh. Mereka menyebarkan desas-desus, apa yang terjadi di pikiran Andi.

Keesokan harinya, Andi melanjutkan sekolahnya dan ia kembali menjadi bintang sekolah. Ia menciptakan banyak barang untuk warga desanya seperti gerobak, serok dan mengajarkan teman-temannya banyak hal. Ia juga senang membantu siapa saja yang memerlukan bantuan. Ia benar-benar menjalin sebuah persahabatan yang sangat baik.

            Beberapa tahun kemudian, ia berdoa kepada ayahnya sebelum tidur.

Ayah. Aku mematuhi perintahmu. Aku berusaha sebisa mungkin menolong banyak orang dan sebentar lagi, aku akan masuk SMA. Aku berpikir akan kembali mengikuti klub fisika agar keinginanku tercapai. Aku juga semakin banyak mengikuti lomba-lomba dan menghasilkan uang lalu kubagi kepada yang lain. Omong-omong, ayah benar. Ternyata dengan itu aku merasa bahagia. Lebih bahagia daripada saat aku memenangkan sebuah lomba Internasional. Aku mohon semoga ayah tetap mengawasiku hingga aku cukup dewasa dan menasehatiku lagi ketika aku salah arah. Mungkin aku juga senang saat itu karena aku bisa melihat bayanganmu lagi. Aku akan pergi tidur sekarang. Selamat malam….”

            Andi menutup jendela dan pergi ketempat tidur lalu merebahkan diri. Tapi sesaat kemudian, ia menatap jendela lagi. Sinar bulan purnama terang masuk menerangi kamarnya.

            “Oh iya, aku lupa memberi tahu ayah satu hal lagi.” Katanya.


“Aku sudah berumur lima belas tahun.”


…………………………………..

Ruang gelap nan dalam, hanya setitik cahaya bersinar 

Terang mengikis bayang-bayang jauh kedepan

Meredup tak seimbang, ditutupi bayang-bayang liar merajalela

Namun bersinar kembali, lurus memecah nun jauh kedepan

Membelah dua bagian di dasar ruang hampa

Membentuk titik cahaya baru, dari bawah ke atas

Bergerak perlahan, mengikuti cahaya pertama

Bersinar menghilangkan keringat dingin

Di dalam hati sebuah pikiran

            Bersinar terang tuk waktu yang lama


Kepala Desa


- Revan 

0 komentar:

resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut

Post a Comment

Silahkan yang ingin berkomentar. Tetapi mohon menggunakan bahasa yang sopan dan santun agar tidak menyinggung perasaan.