5. Ujian Badai
Aku terbangun karena kedua anjingku
menjilati wajahku. Aku kaget dan langsung bangun lalu mengelap mukaku dengan
tangan. Aku melirik anjingku yang menatapku dengan tatapan tak sabar. Aku heran
apa yang mereka lakukan di sini. Seperti biasa aku mengelus-elus kepala mereka
dan segera membangunkan teman-temanku.
“Hei, bangun pemalas. Saatnya
kembali bekerja.” Kataku.
“Hmm… kau telat. Aku sudah dari tadi
bangun hanya saja aku masih berbaring.” Kata Yudis.
Rizky menggeliat bangun sambil
menguap. Ia dan aku berjalan bersama-sama menuju persediaan air kami untuk
membasuh muka. Anjingku menatapku sambil mendengking lalu mengendus-endus
makanan dan menatapku lagi. Aku segera menebak apa yang diinginkan oleh
anjingku.
“Kalian pasti lapar. Ibu tentunya
sedang keluar karena kalau tidak, kalian tidak akan bisa keluar dari gerbang.
Sebentar ya. Aku siapkan makanan.” Jawabku.
Yudis dan Rizky duduk mengelus-elus
anjingku sedangkan aku mencampur nasi, garam dan telur mentah untuk makanan
anjingku. Aku biasa memberi mereka itu, tidak memberi mereka biskuit atau
daging utuh. Anjingku makan dengan sangat lahap. Lebih lahap dari biasanya jadi
sudah jelas mereka lapar.
“Astaga! Sudah jam setengah enam.
Kita sudah tidur selama tiga setengah jam!”Kata Rizky.
“Astaga, aku tidak menyangka tidur
di sini bisa seenak di tempat tidur.” Jawabku.
“Waduh, bagaimana ini? Apa kita
melanjutkan penelitian?” Tanya Yudis.
“Kalau dilanjutkan, mungkin bisa
karena kita akan melihat tentang hewan malam. Tapi kita punya masalah lain.”
Kataku sambil menunjuk ke arah selatan.
Di sana, bergumpal-gumpal awan
kumolonimbus melaju cepat ke arah perkemahan kami. Anjingku pun langsung
berlari menuju rumahku setelah menghabiskan makanannya. Angin sudah berhembus
cukup kencang. Aku bisa memprediksinya dari anjingku bahwa akan ada badai
datang. Badai yang cukup besar. Segera kami berkemas untuk memastikan perkemahan
kami aman. Aku merapikan tikar dan persediaan makanan sedangkan Rizky dan Yudis
memasak makan malam. Kami terpaksa tidak mandi untuk hari itu malamnya.
Angin semakin kuat hingga pohon
bambu yang ada di utara serasa akan patah dahannya dan pohon-pohon berbisik-bisik
disertai suara angin yang seperti berteriak di depan daun telinga kami. Suasana
sedikit mengerikan dan kini awan kumolonimbus sudah menutupi atap perkemahan
kami. Beruntung makan malam sudah siap yang segera dibungkus dengan kertas
minyak. Hanya nasi yang belum matang. Aku masih berusaha mempersiapkan terpal
yang akhirnya dibantu Rizky sedangkan Yudis mengawasi nasi agar tidak gosong.
Akhirnya kami selesai membereskan
tenda dengan sedikit susah payah. Malam sudah tiba dan nasi sudah matang yang
lalu kami bungkus dengan kertas minyak. Saat itu hujan belum turun tetapi petir
sudah menggelegar. Yudis buru-buru masuk membawa nasi. Namun aku lupa
memasukkan kertas hasil penelitian kami ke dalam tas sehingga begitu Yudis
membuka pintu tenda, kertas itu langsung berterbangan layaknya daun-daun musim
gugur. Aku dan Rizky berusaha menangkap tetapi tanpa sengaja, ketika aku
berusaha menangkap salah satu kertas yang berisi bahan penelitian kami, aku
malah mendorongnya keluar sehingga langsung saja kertas itu terbang disapu
angin.
Kami sangat kaget. Aku buru-buru
mengambil senter dan lari keluar mengejar kertas yang seperti layang-layang
putus itu sebelum yang lain sempat mencegah. Angin berhembus sangat kencang,
tetapi tidak kupedulikan hal itu bahkan pohon yang seakan akan tumbang tak lama
lagi.
Aku berlari tersandung-sandung
sementara angin membawa kertas penting kami naik lebih tinggi menyeberangi
sungai. Aku berusaha untuk mengikutinya dan menyeberangi sungai itu. Untung
saja itu adalah bagian yang dangkal. Sungai pun sudah mengalir lebih deras dari
sebelumnya sehingga semakin memperlambat langkahku. Aku terpeleset hingga
hampir seluruh pakaianku basah.
Setelah
berhasil menyeberangi sungai, aku kehilangan jejak kertas itu. Hari sudah gelap
sehingga menyusahkan mataku untuk mengawasi setiap sisi. Tapi aku tidak ingin
menyerah. Aku bertekad untuk terus mencarinya sampai hujan turun karena aku
yakin masih ada serentetan badai lainnya berbaris menunggu giliran untuk menjatuhkan
air matanya, menghembuskan nafasnya dan meneriakkan tangisnya atau aumannya.
Aku
semakin masuk ke dalam hutan kecil itu untuk mencari catatan berharga kami.
Semakin masuk, pepohonan di sana semakin tinggi sehingga aku memeriksa setiap
pepohonan dan berharap catatan penting itu tersangkut di dedaunan salah satu
pohon. Tiba-tiba, aku melihat sinar senter lainnya. Itu Yudis yang menyusulku.
Kulihat pakaiannya juga tampak basah. Semestinya ia juga terpeleset saat
menyeberangi sungai. Memang bagian sana terdapat banyak bebatuan licin.
“Kau
sudah menemukan catatan kita?!” Tanya Yudis dengan sedikit berteriak untuk
mengalahkan suara auman angin.
“Belum.
Tapi aku yakin kertasnya jatuh di sekitar sini.” Jawabku sedikit berteriak.
Kami
sempat mencarinya sedikit lebih lama hingga angin bertambah semakin kencang dan
membuatku serasa seperti didorong mundur.
“Kita
sudahi saja. Kita harus segera kembali.” Teriak Yudis.
Harapan
memang sudah sangat kecil sehingga aku menurutinya dan bergegas kembali. Kami
berjalan melewati hutan kecil itu sambil menyoroti senter ke pepohonan. Aku
akhirnya menangkap bayangan mengkilat. Aku memanggil Yudis dan kami berlari ke
arah pohon tempat bayangan itu tersangkut.
Tetapi
ternyata itu adalah bayangan kantung plastik putih yang memantulkan cahaya
senter. Kami kecewa, tetapi juga kesal karena orang-orang malah membuang plastik
sembarangan. Akhirnya aku menangkap pantulan cahaya putih lainnya yang tak lain
adalah sebuah kertas.
Aku
menyuruh Yudis untuk mengambil plastik yang tersangkut di pohon itu sementara
aku akan mengambil kertas yang kami duga adalah catatan kami yang tersangkut di
pohon yang cukup tinggi. Aku memanjat pohon itu dengan hati-hati dan naik ke
dahan-dahannya. Baju yang basah menambah beban tubuhku. Sementara Yudis sudah
berada di bawah mengawasiku. Lumayan cepat ternyata dia memanjat.
Akhirnya
aku berhasil meraih kertas itu dan ternyata benarlah bahwa itu adalah catatan
kami. Tanpa basa-basi aku langsung melompat turun dari ketinggian dan membuat
Yudis kaget.
“Kau
gila.”
“Apa?”
Tanyaku.
“Kau
melompat dari ketinggian itu.”
“Tidak
ada waktu lagi. Ayo, ini sudah gerimis. Jangan sampai kita basah kuyup.”
Kami
langsung berlari menuju kemah sambil berhati-hati agar tidak tersandung. Yudis
menyelipkan catatan itu ke bagian bajunya yang tidak basah agar kertas itu
terlindung dari hujan. Untunglah kami tidak terpeleset saat menyeberangi
sungai. Akhirnya kami sampai di perkemahan dengan selamat. Yudis segera
menyerahkan kertas berisi catatan penting itu pada Rizky untuk disimpan di tempat
yang aman sementara aku memasukkan plastik yang tadi ia ambil ke dalam kantung
sampah kami.
Hujan
sudah mengguyur cukup deras. Aku mengambil payung dan mengganti pakaianku yang
basah di belakang tenda dengan yang kering. Cukup susah berganti pakain sambil
memegang payung. Lalu berganti Yudis. Akhirnya kami duduk di dalam tenda dan
makan malam diiringi badai yang mengamuk. Di sana tidak terlalu berdesakan.
Barang-barang ditaruh di pinggir tenda.
Hidangan
tetap sederhana karena kami tidak punya waktu memasak banyak. Hidangan hanya nasi,
tempe, ayam dan telur disertai saus atau kecap. Diterangi cahaya senter, kami
makan dengan nikmat. Sesekali guntur berbunyi keras mengagetkan.
Sesudah
makan, semua diletakkan di pojok. Kami berdiskusi tentang pengamatan tadi siang,
termasuk strategi untuk keesokan harinya.
“Jika
besok hari masih hujan, kita lanjutkan saja ke pinggir sungai dan masuk ke hutan.
Mungkin akan ada hewan lain keluar di saat hujan. Kuharap penelitian kita untuk
siang hari yang cerah sudah lengkap.” Kataku.
“Aku
rasa sudah.” Jawab Yudis dan Rizky serempak. “Aku sudah meneliti ikan-ikan di sungai
hingga aku menemukan air terjun di utara. Air terjunnya tidak terlalu tinggi, tetapi
di sekitar sana terdapat banyak ikan. Ekosistem di sini cukup bagus.” Jelas Yudis.
“Baiklah,
kita lanjutkan besok pagi. Mudah-mudahan Dewi Keberuntungan selalu bersama kita.
Hehehe.” Kata Rizky.
Kami
merasa ingin tidur saat itu. Tetapi tampaknya berdesakkan melihat ruang yang
tertinggal. Akhirnya kami mencoba berbaring di kantung tidur. Lumayan
berdesakkan. Rizky mematikan senter dan seketika tenda menjadi gelap gulita dan
sesekali terang ketika petir menyambar.
“Ki,
bisa minggir dikit?” Tanya Yudis.
Rizky
menggeser badannya sehingga kemungkinan besar ia akan membentur panci saat
tidur. Ia bangun lalu mengganti panci di sampingnya dengan tas ransel agar
lebih aman. Seketika semua langsung terlelap. Yudis tidur mendengkur. Tidur
saat badai memang sungguh enak. Aku tidur di antara mereka berdua dan sebelum tidur, aku
berusaha mendengarkan keadaan di luar. Suara katak bersahut-sahutan sehingga
seharusnya di dekat sini ada banyak katak.
Akhirnya
rasa kantuk mengalahkanku dan aku ikut terlelap. Semua tidur dengan tenang dan
damai. Menari-nari dalam mimpi masing-masing.
- Revan







Dewi Fortuna akan selalu mendampingi :v
ReplyDeleteMudah-mudahan :v
Delete