Saturday, 20 February 2016

The Camp - The First Journey Eps.5


5. Ujian Badai


            Aku terbangun karena kedua anjingku menjilati wajahku. Aku kaget dan langsung bangun lalu mengelap mukaku dengan tangan. Aku melirik anjingku yang menatapku dengan tatapan tak sabar. Aku heran apa yang mereka lakukan di sini. Seperti biasa aku mengelus-elus kepala mereka dan segera membangunkan teman-temanku.


            “Hei, bangun pemalas. Saatnya kembali bekerja.” Kataku.

            “Hmm… kau telat. Aku sudah dari tadi bangun hanya saja aku masih berbaring.” Kata Yudis.

            Rizky menggeliat bangun sambil menguap. Ia dan aku berjalan bersama-sama menuju persediaan air kami untuk membasuh muka. Anjingku menatapku sambil mendengking lalu mengendus-endus makanan dan menatapku lagi. Aku segera menebak apa yang diinginkan oleh anjingku.

            “Kalian pasti lapar. Ibu tentunya sedang keluar karena kalau tidak, kalian tidak akan bisa keluar dari gerbang. Sebentar ya. Aku siapkan makanan.” Jawabku.

            Yudis dan Rizky duduk mengelus-elus anjingku sedangkan aku mencampur nasi, garam dan telur mentah untuk makanan anjingku. Aku biasa memberi mereka itu, tidak memberi mereka biskuit atau daging utuh. Anjingku makan dengan sangat lahap. Lebih lahap dari biasanya jadi sudah jelas mereka lapar.

            “Astaga! Sudah jam setengah enam. Kita sudah tidur selama tiga setengah jam!”Kata Rizky.

            “Astaga, aku tidak menyangka tidur di sini bisa seenak di tempat tidur.” Jawabku.

            “Waduh, bagaimana ini? Apa kita melanjutkan penelitian?” Tanya Yudis.

            “Kalau dilanjutkan, mungkin bisa karena kita akan melihat tentang hewan malam. Tapi kita punya masalah lain.” Kataku sambil menunjuk ke arah selatan.

            Di sana, bergumpal-gumpal awan kumolonimbus melaju cepat ke arah perkemahan kami. Anjingku pun langsung berlari menuju rumahku setelah menghabiskan makanannya. Angin sudah berhembus cukup kencang. Aku bisa memprediksinya dari anjingku bahwa akan ada badai datang. Badai yang cukup besar. Segera kami berkemas untuk memastikan perkemahan kami aman. Aku merapikan tikar dan persediaan makanan sedangkan Rizky dan Yudis memasak makan malam. Kami terpaksa tidak mandi untuk hari itu malamnya.

            Angin semakin kuat hingga pohon bambu yang ada di utara serasa akan patah dahannya dan pohon-pohon berbisik-bisik disertai suara angin yang seperti berteriak di depan daun telinga kami. Suasana sedikit mengerikan dan kini awan kumolonimbus sudah menutupi atap perkemahan kami. Beruntung makan malam sudah siap yang segera dibungkus dengan kertas minyak. Hanya nasi yang belum matang. Aku masih berusaha mempersiapkan terpal yang akhirnya dibantu Rizky sedangkan Yudis mengawasi nasi agar tidak gosong.

            Akhirnya kami selesai membereskan tenda dengan sedikit susah payah. Malam sudah tiba dan nasi sudah matang yang lalu kami bungkus dengan kertas minyak. Saat itu hujan belum turun tetapi petir sudah menggelegar. Yudis buru-buru masuk membawa nasi. Namun aku lupa memasukkan kertas hasil penelitian kami ke dalam tas sehingga begitu Yudis membuka pintu tenda, kertas itu langsung berterbangan layaknya daun-daun musim gugur. Aku dan Rizky berusaha menangkap tetapi tanpa sengaja, ketika aku berusaha menangkap salah satu kertas yang berisi bahan penelitian kami, aku malah mendorongnya keluar sehingga langsung saja kertas itu terbang disapu angin.

            Kami sangat kaget. Aku buru-buru mengambil senter dan lari keluar mengejar kertas yang seperti layang-layang putus itu sebelum yang lain sempat mencegah. Angin berhembus sangat kencang, tetapi tidak kupedulikan hal itu bahkan pohon yang seakan akan tumbang tak lama lagi.

            Aku berlari tersandung-sandung sementara angin membawa kertas penting kami naik lebih tinggi menyeberangi sungai. Aku berusaha untuk mengikutinya dan menyeberangi sungai itu. Untung saja itu adalah bagian yang dangkal. Sungai pun sudah mengalir lebih deras dari sebelumnya sehingga semakin memperlambat langkahku. Aku terpeleset hingga hampir seluruh pakaianku basah.

Setelah berhasil menyeberangi sungai, aku kehilangan jejak kertas itu. Hari sudah gelap sehingga menyusahkan mataku untuk mengawasi setiap sisi. Tapi aku tidak ingin menyerah. Aku bertekad untuk terus mencarinya sampai hujan turun karena aku yakin masih ada serentetan badai lainnya berbaris menunggu giliran untuk menjatuhkan air matanya, menghembuskan nafasnya dan meneriakkan tangisnya atau aumannya. 

Aku semakin masuk ke dalam hutan kecil itu untuk mencari catatan berharga kami. Semakin masuk, pepohonan di sana semakin tinggi sehingga aku memeriksa setiap pepohonan dan berharap catatan penting itu tersangkut di dedaunan salah satu pohon. Tiba-tiba, aku melihat sinar senter lainnya. Itu Yudis yang menyusulku. Kulihat pakaiannya juga tampak basah. Semestinya ia juga terpeleset saat menyeberangi sungai. Memang bagian sana terdapat banyak bebatuan licin.

“Kau sudah menemukan catatan kita?!” Tanya Yudis dengan sedikit berteriak untuk mengalahkan suara auman angin.

“Belum. Tapi aku yakin kertasnya jatuh di sekitar sini.” Jawabku sedikit berteriak.

Kami sempat mencarinya sedikit lebih lama hingga angin bertambah semakin kencang dan membuatku serasa seperti didorong mundur.

“Kita sudahi saja. Kita harus segera kembali.” Teriak Yudis.

Harapan memang sudah sangat kecil sehingga aku menurutinya dan bergegas kembali. Kami berjalan melewati hutan kecil itu sambil menyoroti senter ke pepohonan. Aku akhirnya menangkap bayangan mengkilat. Aku memanggil Yudis dan kami berlari ke arah pohon tempat bayangan itu tersangkut.

Tetapi ternyata itu adalah bayangan kantung plastik putih yang memantulkan cahaya senter. Kami kecewa, tetapi juga kesal karena orang-orang malah membuang plastik sembarangan. Akhirnya aku menangkap pantulan cahaya putih lainnya yang tak lain adalah sebuah kertas.

Aku menyuruh Yudis untuk mengambil plastik yang tersangkut di pohon itu sementara aku akan mengambil kertas yang kami duga adalah catatan kami yang tersangkut di pohon yang cukup tinggi. Aku memanjat pohon itu dengan hati-hati dan naik ke dahan-dahannya. Baju yang basah menambah beban tubuhku. Sementara Yudis sudah berada di bawah mengawasiku. Lumayan cepat ternyata dia memanjat.

Akhirnya aku berhasil meraih kertas itu dan ternyata benarlah bahwa itu adalah catatan kami. Tanpa basa-basi aku langsung melompat turun dari ketinggian dan membuat Yudis kaget.

“Kau gila.”
 
“Apa?” Tanyaku.

“Kau melompat dari ketinggian itu.”

“Tidak ada waktu lagi. Ayo, ini sudah gerimis. Jangan sampai kita basah kuyup.”

Kami langsung berlari menuju kemah sambil berhati-hati agar tidak tersandung. Yudis menyelipkan catatan itu ke bagian bajunya yang tidak basah agar kertas itu terlindung dari hujan. Untunglah kami tidak terpeleset saat menyeberangi sungai. Akhirnya kami sampai di perkemahan dengan selamat. Yudis segera menyerahkan kertas berisi catatan penting itu pada Rizky untuk disimpan di tempat yang aman sementara aku memasukkan plastik yang tadi ia ambil ke dalam kantung sampah kami.

Hujan sudah mengguyur cukup deras. Aku mengambil payung dan mengganti pakaianku yang basah di belakang tenda dengan yang kering. Cukup susah berganti pakain sambil memegang payung. Lalu berganti Yudis. Akhirnya kami duduk di dalam tenda dan makan malam diiringi badai yang mengamuk. Di sana tidak terlalu berdesakan. Barang-barang ditaruh di pinggir tenda.

Hidangan tetap sederhana karena kami tidak punya waktu memasak banyak. Hidangan hanya nasi, tempe, ayam dan telur disertai saus atau kecap. Diterangi cahaya senter, kami makan dengan nikmat. Sesekali guntur berbunyi keras mengagetkan.


Sesudah makan, semua diletakkan di pojok. Kami berdiskusi tentang pengamatan tadi siang, termasuk strategi untuk keesokan harinya.

“Jika besok hari masih hujan, kita lanjutkan saja ke pinggir sungai dan masuk ke hutan. Mungkin akan ada hewan lain keluar di saat hujan. Kuharap penelitian kita untuk siang hari yang cerah sudah lengkap.” Kataku.

“Aku rasa sudah.” Jawab Yudis dan Rizky serempak. “Aku sudah meneliti ikan-ikan di sungai hingga aku menemukan air terjun di utara. Air terjunnya tidak terlalu tinggi, tetapi di sekitar sana terdapat banyak ikan. Ekosistem di sini cukup bagus.” Jelas Yudis.

“Baiklah, kita lanjutkan besok pagi. Mudah-mudahan Dewi Keberuntungan selalu bersama kita. Hehehe.” Kata Rizky.

Kami merasa ingin tidur saat itu. Tetapi tampaknya berdesakkan melihat ruang yang tertinggal. Akhirnya kami mencoba berbaring di kantung tidur. Lumayan berdesakkan. Rizky mematikan senter dan seketika tenda menjadi gelap gulita dan sesekali terang ketika petir menyambar.

“Ki, bisa minggir dikit?” Tanya Yudis.
Rizky menggeser badannya sehingga kemungkinan besar ia akan membentur panci saat tidur. Ia bangun lalu mengganti panci di sampingnya dengan tas ransel agar lebih aman. Seketika semua langsung terlelap. Yudis tidur mendengkur. Tidur saat badai memang sungguh enak. Aku tidur di antara mereka berdua dan sebelum tidur, aku berusaha mendengarkan keadaan di luar. Suara katak bersahut-sahutan sehingga seharusnya di dekat sini ada banyak katak.

Akhirnya rasa kantuk mengalahkanku dan aku ikut terlelap. Semua tidur dengan tenang dan damai. Menari-nari dalam mimpi masing-masing.



- Revan

2 comments:

Silahkan yang ingin berkomentar. Tetapi mohon menggunakan bahasa yang sopan dan santun agar tidak menyinggung perasaan.