Hari
Keempat
7. Jalan Pintas Menuju Air
Terjun
Aku dan Yudis masih terlelap ketika
Rizky bangun paling awal. Saat itu aku merasa seperti setengah sadar. Aku bisa
melihat Rizky bangun dan duduk sebentar. Aku bahkan juga merasa mendengar
suaranya. Tetapi aku juga serasa masih tidur, tak bisa bergerak. Sampai-sampai
aku melihat Rizky mengangkat tanggannya dan menampar pipiku keras-keras.
Sontak, aku serasa sembuh dari kelumpuhan dan langsung terbangun. Aku masih
dalam keadaan mengantuk sehingga rasanya tidak sakit.
“Hei, bangun pemalas.” Katanya
sambil tersenyum licik. “Bukankah lebih bagus melakukan pengamatan pagi-pagi?”
“Jam berapa ini?” Tanyaku yang masih
mengantuk.
“Jam enam. Ayo!” Ajak Rizky yang
sudah bersemangat.
Sebelum keluar, Rizky menarik pipi
Yudis keras-keras sampai kepalanya terangkat lalu pergi sambil membawa botol
berisi air bersih. Tetapi, Yudis masih tetap mendengkur seolah tak terganggu.
Rizky sudah keluar untuk mencuci muka. Aku masih terduduk beberapa saat hingga
akhirnya aku sudah cukup kuat untuk bangun lalu keluar tenda.
Seketika sinar matahari yang hangat
menyinari tubuhku. Cuaca sangat cerah dan bersih setelah di “cuci” oleh badai.
Aku menghirup dalam-dalam dan menghembuskan nafas. Udara terasa segar sekali
pagi itu. Aku menghampiri Rizky dan meminta air. Sungai sudah tampak jernih
kembali, tetapi masih mengalir deras. Dedaunan dan lahan di sana-sini masih
basah. Mungkin seharusnya setelah kami tidur, ada hujan lain turun.
Selesai mencuci muka dan minum air,
kami kembali ke tenda memeriksa keadaan Yudis. Ia masih bersembunyi di dalam
kantung tidurnya.
“Hei, kau pemalas. Cepat bangun.
Jangan jadi seperti kukang.” Kataku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan
keras. Tetapi, Yudis tetap mendengkur.
Rizky mengambil tali pramuka lalu
melepasnya sedikit. Ia mengeluarkan tangan Yudis dan menggesekkannya dengan
cepat di tanggannya hingga panas. Tetapi Yudis tetap tak bergeming. Aku
mengambil botol aku yang sudah kosong lalu memukul-mukulnya di samping
telinganya, tetapi ini pun dia hanya membenarkan posisi lalu melanjutkan
tidurnya. Aku dan Rizky jadi saling berpandangan.
“Dia membuatku ingin mencambuk habis
tubuhnya. Kuat sekali dia tidur. Dia seakan sudah mati.” Kata Rizky.
“Hei, aku ada ide. Dan aku pernah
dengar dari orang tuanya cara membangunkannya.” Jawabku.
“Apa?”
“Kita sirami dia air.”
“Boleh juga. Sekarang ayo gotong dia
dahulu. Kalau perlu kita ceburkan dia ke sungai.” Kata Rizky bercanda.
Kami mengambil posisi. Aku memegang
bagian kepala Yudis sedangkan Rizky memegang kakinya. Kami mencoba
spontan mengangkatnya tetapi dia ternyata cukup berat hingga kami kembali
meletakkannya di tempatnya karena belum benar-benar siap. Setelah mengumpulkan
tenaga dan membuka pintu tenda, kami berdua mengangkat tubuh kurus dan berat
itu dengan tenaga yang kami punya. Kami membawanya keluar tenda dan
meletakkannya di tanah yang sudah cukup kering.
Rizky mengambil botol air dan hendak
menyiramkannya ke kepala Yudis yang masih terus mendengkur. Tetapi aku
menghentikannya.
“Jangan pakai cara itu! Pakai yang
lebih seru sedikit!” Kataku.
“Lalau bagaimana?”
“Kemarikan botol itu.”
Aku membuka botol itu lalu meminum
airnya. Tetapi tidak sampai kutelan. Kudiamkan dulu di mulut sambil kukumur.
Setelah itu, tanpa pikir panjang kusemprotkan tepat di kepala Yudis layaknya
keluar dari selang. Yudis langsung kaget dan melompat bangun.
“Apaan ini?!” Serunya kaget.
“Hahaha… selamat pagi Tuan Yudis.
Cuci muka saat tidur ternyata enak, ya?” Cemoh Rizky sambil tertawa
terbahak-bahak.
“Kalian manusia sialan! Lihat bajuku
basah. Kau siram dari mulutmu lagi. Sialan, bajuku kotor juga! Tanah ini masih
basah! Harusnya kalian lihat juga tanahnya kalau mau bangunkan aku dengan cara
ini!” Kata Yudis.
“Kami sengaja memilih ini kok. Tidak
ada yang kering. Jika kepalamu kami taruh di batu, kan kasihan.” Jawabku sambil
ikut tertawa.
Yudis memang lucu. Jika dijahili
begini ia tidak akan marah. Hanya kata-katanya yang kasar. Ia segera mengelap
mukanya dengan handuk dan mengganti bajunya. Aku mengambil mangkuk, lalu kuberi
sereal jagung dan susu yang kemudian kucampuri madu. Kami pun makan sarapan
sereal dengan nikmat di pagi pertama kemah ini.
Burung-burung berkicau riang dan
serangga-serangga bernyanyi berisik. Udara segar dan sinar matahari hangat
masuk melalui sela-sela daun sehingga menciptakan pemandangan yang indah. Hal
ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan makan di restoran mahal.
Entah ada apa yang mempengaruhi
pikiran kami tetapi kami berlomba-lomba secepatnya selesai sarapan, bukannya
duduk tenang menikmati makan di situasi yang jarang ini. Alhasil kami selesai
bersamaan. Kami mencuci mangkuk dan kini malah membuat roti dengan selai coklat
lalu makan dengan nikmat sambil berjalan-jalan keliling sekitar tempat kemah.
Aku dan Rizky menceritakan
pengalaman kami kemarin malam dan benar saja, Yudis iri dan menuduh kami.
“Kalian seharusnya membangunkanku!
Kalian benar-benar manusia tak tahu adat!”
“Oh, kalau begitu kami bangunkan kau
saja. Tidak mengajakmu.” Jawabku sambil nyengir. “Canda. Tenang saja.”
“Tapi jangan harap begitu. Kau harus
tau kalau membangunkanmu itu benar-benar merepotkan. Menggotongmu, lalu menyirammu.
Tapi aku suka bagian saat kau disiram lalu terbangun meski aku tidak senang
menggotongmu. Lagian tubuhmu juga berat.” Kata Rizky.
“Tenang saja. Aku akan bangun ketika
kalian bangunkan.” Kata Yudis tegas.
“Hmmm… aku ragu. Kau pasti tak akan
bangun…” Kataku.
“Jika aku ingin bangun, aku pasti
bangun. Tadi itu hanya aku tidak ingin bangun saja.” Kata Yudis.
“Tunggu dulu, jadi kau tadi
sebenarnya sudah bangun?” Tanyaku.
“Tidak.”
“Lalu apa maksudmu jika kau ingin
bangun? Bagaimana kau bisa berharap saat kau masih tertidur?”
“Kau lihat saja nanti. Susah
menjelaskannya. Yang pasti aku akan bangun jika aku ingin. Pokoknya, nanti
malam kita lihat kunang-kunang itu lagi, oke?” Jawab Yudis sambil nyengir.
“Hmmm… kita coba saja. Kalau kau tak
bangun, kami tinggal.” Kata Rizky.
Kami berjalan-jalan hingga sampai di
jembatan bambu di selatan dan bercerita terus kepada Yudis tentang kejadian
semalam, termasuk saat kami bertemu dengan ular. Yudis tampak sangat tertarik.
Kami menyeberangi jembatan bambu. Jembatan itu sangat licin sehingga kami harus
berhati-hati.
Yudis kurang beruntung dan
terpeleset. Tetapi, ia secara refleks menggenggam tanganku sehingga aku ikut
terjatuh. Tetapi aku lebih tidak beruntung karena aku melewat batas jembatan
dan jatuh ke sungai bersama Yudis. Sontak kami terseret arus yang sangat deras
jauh ke selatan.
Rizky sangat kaget dan segera
berlari menyusul kami. Aku dan Yudis sudah saling melepaskan tangan dan
terpisah. Arus sangat kuat sehingga kami tidak mampu berpijak dan melawan. Kami
kesulitan bernafas karena kadang kepala kami masuk ke air dan keluar lagi,
masuk lagi dan seterusnya. Sementara Rizky mengejar, aku berusaha mencari
bebatuan besar.
“Yudis! ‘Blup-blup’ Cari lah
bebatuan! Lawan arus ini dengan berpijak di bebatuan itu!” Teriakku.
Kami bekerja keras mencari bebatuan,
tetapi selalu terlewati karena arus air yang kencang. Aku sempat menangkap
salah satu batuan, tetapi aku akhirnya lepaskan karena itu membuat tanganku
sakit. Akhirnya aku sempat melihat kalau di depanku ada bebatuan. Aku kelabakan
karena berusaha menggerakan kakiku ke depan. Tepat saat aku akan membentur batu
besar itu, aku berhasil berpijak dengan kakiku dan kini aku bertahan dari
derasnya arus di bebatuan itu.
Yudis masih lepas kendali dan
bergerak semakin ke pinggir sungai. Untunglah matanya sigap dan menangkap
sebuah akar pohon yang tersembul keluar. Yudis bertahan dan ia berusaha untuk
naik ke sisi sungai. Rizky datang dan membantu Yudis naik. Kini tinggal aku
yang masih bertahan melawan deras arus sungai.
“Hei, Mang! Bertahanlah! Yudis,
bagaimana kalau kau kembali dan mengambilkan tali?” Kata Rizky.
Baru saja Yudis hendak beranjak
pergi, kakiku terpeleset dari batu besar yang licin itu dan aku kembali
terseret arus. Yudis dan Rizky berseru memanggilku dan mengejarku secepat yang
mereka bisa. Aku kelabakan dan kulihat di depanku terdapat air terjun.
“Gawat!” Pikirku.
Aku terus terseret arus dan jatuh
dari air terjun itu. Rizky dan Yudis sampai dan memperhatikan ke bawah. Aku
sudah lenyap dari pandangan mereka. Air terjun itu tidak terlalu tinggi dan di
bawahnya tidak terdapat bebatuan. Akhirnya aku naik ke permukaan dan mereka
bersorak lega. Sungai di sana ternyata cukup dalam
Di
bawah, arus sedikit berkurang dan aku mampu berpijak pada batu. Aku mencoba berjalan ke
pinggir tetapi aku terpeleset dan terseret hingga aku berhasil berpegangan di
salah satu akar yang tersembul pula keluar. Aku berhasil naik ke sisi sungai
dan berbaring. Nafasku naik turun karena mengalami peristiwa yang hebat.
Rizky
dan Yudis sudah turun dan menghampiriku. Kami semua sangat lega. Tidak ada luka
yang berarti pada kami meski ada luka-luka kecil karena tergores bebatuan di
sungai.
“Tadi
itu gila!” Kata Yudis. “Maaf, Mang. Karena aku memegang tanganmu saat
terpeleset, kita berdua jadi terjatuh ke sungai.”
Aku
masih menatap lingkungan baru di sekitar kami. Lingkungan di dekat air terjun
itu indah. Bahkan sepertinya lebih indah dari tempat kami berkemah dan bebatuan
sungai itu benar-benar menyejukkan mata. Ada kolam yang cukup tenang di sana
dan jernih penuh oleh ikan. Aku belum pernah ke daerah ini sebelumnya.
“Biarkan
sajalah. Lagipula, karena itu kita menemukan tempat indah ini. Lihatlah.
Bukankah asyik jika kita pindah kemari?” Usulku.
Semua
melihat berkeliling. Memang benar dan semua pun menikmati pemandangan itu.
Tampaknya kami sudah masuk jauh ke dalam hutan. Burung-burung lebih ramai dan
berkicau riang di sini. Di sini ada tanah lapang yang dipenuhi rumput liar yang
tidak terlalu tinggi. Akan enak jika kami pindah ke sana. Hutan ini ternyata
lebih luas dan jauh lebih menyenangkan dari sangkaanku.
“Bagaimana?”
Kata Rizky tiba-tiba. Semua memandang ke arahnya dengan heran. “Kenapa kalian
bengong saja? Ayo, ini saatnya kita membereskan barang kita ke tempat yang
sempurna.”
“Ini
tidak benar-benar sempurna.” Kataku. “Tetapi sempurna untuk petualang cilik dan
pemula seperti kita.”
“Kalau
begitu ayolah. Kita belum meneliti tentang tumbuhan sedikitpun. Biar kita
selesaikan hari ini. Aku ingin pulang bermain game lagi. Aku tidak membawa
hp-ku. Tapi tidak kusangka berkemah di sini bersama kalian bertiga jauh lebih
menyenangkan.” Katanya sambil menyingkirkan air dari rambutnya.
Kami
tidak buang waktu. Kami rasa kami memang beruntung mendapat tugas ini. Jika
tidak, tidak akan ada pengalaman seru ini.
- Revan







0 komentar:
Post a Comment
Silahkan yang ingin berkomentar. Tetapi mohon menggunakan bahasa yang sopan dan santun agar tidak menyinggung perasaan.