Wednesday, 24 February 2016

The Camp - The First Journet Eps.7


Hari Keempat

7. Jalan Pintas Menuju Air Terjun

            Aku dan Yudis masih terlelap ketika Rizky bangun paling awal. Saat itu aku merasa seperti setengah sadar. Aku bisa melihat Rizky bangun dan duduk sebentar. Aku bahkan juga merasa mendengar suaranya. Tetapi aku juga serasa masih tidur, tak bisa bergerak. Sampai-sampai aku melihat Rizky mengangkat tanggannya dan menampar pipiku keras-keras. Sontak, aku serasa sembuh dari kelumpuhan dan langsung terbangun. Aku masih dalam keadaan mengantuk sehingga rasanya tidak sakit.


         “Hei, bangun pemalas.” Katanya sambil tersenyum licik. “Bukankah lebih bagus melakukan pengamatan pagi-pagi?”

            “Jam berapa ini?” Tanyaku yang masih mengantuk.

            “Jam enam. Ayo!” Ajak Rizky yang sudah bersemangat.

            Sebelum keluar, Rizky menarik pipi Yudis keras-keras sampai kepalanya terangkat lalu pergi sambil membawa botol berisi air bersih. Tetapi, Yudis masih tetap mendengkur seolah tak terganggu. Rizky sudah keluar untuk mencuci muka. Aku masih terduduk beberapa saat hingga akhirnya aku sudah cukup kuat untuk bangun lalu keluar tenda.

            Seketika sinar matahari yang hangat menyinari tubuhku. Cuaca sangat cerah dan bersih setelah di “cuci” oleh badai. Aku menghirup dalam-dalam dan menghembuskan nafas. Udara terasa segar sekali pagi itu. Aku menghampiri Rizky dan meminta air. Sungai sudah tampak jernih kembali, tetapi masih mengalir deras. Dedaunan dan lahan di sana-sini masih basah. Mungkin seharusnya setelah kami tidur, ada hujan lain turun.

            Selesai mencuci muka dan minum air, kami kembali ke tenda memeriksa keadaan Yudis. Ia masih bersembunyi di dalam kantung tidurnya.

            “Hei, kau pemalas. Cepat bangun. Jangan jadi seperti kukang.” Kataku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan keras. Tetapi, Yudis tetap mendengkur.

            Rizky mengambil tali pramuka lalu melepasnya sedikit. Ia mengeluarkan tangan Yudis dan menggesekkannya dengan cepat di tanggannya hingga panas. Tetapi Yudis tetap tak bergeming. Aku mengambil botol aku yang sudah kosong lalu memukul-mukulnya di samping telinganya, tetapi ini pun dia hanya membenarkan posisi lalu melanjutkan tidurnya. Aku dan Rizky jadi saling berpandangan.

            “Dia membuatku ingin mencambuk habis tubuhnya. Kuat sekali dia tidur. Dia seakan sudah mati.” Kata Rizky.

            “Hei, aku ada ide. Dan aku pernah dengar dari orang tuanya cara membangunkannya.” Jawabku.

            “Apa?”

            “Kita sirami dia air.”

            “Boleh juga. Sekarang ayo gotong dia dahulu. Kalau perlu kita ceburkan dia ke sungai.” Kata Rizky bercanda.

            Kami mengambil posisi. Aku memegang bagian kepala Yudis sedangkan Rizky memegang kakinya. Kami mencoba spontan mengangkatnya tetapi dia ternyata cukup berat hingga kami kembali meletakkannya di tempatnya karena belum benar-benar siap. Setelah mengumpulkan tenaga dan membuka pintu tenda, kami berdua mengangkat tubuh kurus dan berat itu dengan tenaga yang kami punya. Kami membawanya keluar tenda dan meletakkannya di tanah yang sudah cukup kering.

            Rizky mengambil botol air dan hendak menyiramkannya ke kepala Yudis yang masih terus mendengkur. Tetapi aku menghentikannya.

            “Jangan pakai cara itu! Pakai yang lebih seru sedikit!” Kataku.

            “Lalau bagaimana?”

            “Kemarikan botol itu.”

            Aku membuka botol itu lalu meminum airnya. Tetapi tidak sampai kutelan. Kudiamkan dulu di mulut sambil kukumur. Setelah itu, tanpa pikir panjang kusemprotkan tepat di kepala Yudis layaknya keluar dari selang. Yudis langsung kaget dan melompat bangun.

            “Apaan ini?!” Serunya kaget.

            “Hahaha… selamat pagi Tuan Yudis. Cuci muka saat tidur ternyata enak, ya?” Cemoh Rizky sambil tertawa terbahak-bahak.

            “Kalian manusia sialan! Lihat bajuku basah. Kau siram dari mulutmu lagi. Sialan, bajuku kotor juga! Tanah ini masih basah! Harusnya kalian lihat juga tanahnya kalau mau bangunkan aku dengan cara ini!” Kata Yudis.

            “Kami sengaja memilih ini kok. Tidak ada yang kering. Jika kepalamu kami taruh di batu, kan kasihan.” Jawabku sambil ikut tertawa.

            Yudis memang lucu. Jika dijahili begini ia tidak akan marah. Hanya kata-katanya yang kasar. Ia segera mengelap mukanya dengan handuk dan mengganti bajunya. Aku mengambil mangkuk, lalu kuberi sereal jagung dan susu yang kemudian kucampuri madu. Kami pun makan sarapan sereal dengan nikmat di pagi pertama kemah ini.

            Burung-burung berkicau riang dan serangga-serangga bernyanyi berisik. Udara segar dan sinar matahari hangat masuk melalui sela-sela daun sehingga menciptakan pemandangan yang indah. Hal ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan makan di restoran mahal.

            Entah ada apa yang mempengaruhi pikiran kami tetapi kami berlomba-lomba secepatnya selesai sarapan, bukannya duduk tenang menikmati makan di situasi yang jarang ini. Alhasil kami selesai bersamaan. Kami mencuci mangkuk dan kini malah membuat roti dengan selai coklat lalu makan dengan nikmat sambil berjalan-jalan keliling sekitar tempat kemah.

            Aku dan Rizky menceritakan pengalaman kami kemarin malam dan benar saja, Yudis iri dan menuduh kami.

            “Kalian seharusnya membangunkanku! Kalian benar-benar manusia tak tahu adat!”

           “Oh, kalau begitu kami bangunkan kau saja. Tidak mengajakmu.” Jawabku sambil nyengir. “Canda. Tenang saja.”

         “Tapi jangan harap begitu. Kau harus tau kalau membangunkanmu itu benar-benar merepotkan. Menggotongmu, lalu menyirammu. Tapi aku suka bagian saat kau disiram lalu terbangun meski aku tidak senang menggotongmu. Lagian tubuhmu juga berat.” Kata Rizky.

            “Tenang saja. Aku akan bangun ketika kalian bangunkan.” Kata Yudis tegas.

            “Hmmm… aku ragu. Kau pasti tak akan bangun…” Kataku.

            “Jika aku ingin bangun, aku pasti bangun. Tadi itu hanya aku tidak ingin bangun saja.” Kata Yudis.

            “Tunggu dulu, jadi kau tadi sebenarnya sudah bangun?” Tanyaku.

            “Tidak.”

            “Lalu apa maksudmu jika kau ingin bangun? Bagaimana kau bisa berharap saat kau masih tertidur?”

            “Kau lihat saja nanti. Susah menjelaskannya. Yang pasti aku akan bangun jika aku ingin. Pokoknya, nanti malam kita lihat kunang-kunang itu lagi, oke?” Jawab Yudis sambil nyengir.

            “Hmmm… kita coba saja. Kalau kau tak bangun, kami tinggal.” Kata Rizky.

            Kami berjalan-jalan hingga sampai di jembatan bambu di selatan dan bercerita terus kepada Yudis tentang kejadian semalam, termasuk saat kami bertemu dengan ular. Yudis tampak sangat tertarik. Kami menyeberangi jembatan bambu. Jembatan itu sangat licin sehingga kami harus berhati-hati.

            Yudis kurang beruntung dan terpeleset. Tetapi, ia secara refleks menggenggam tanganku sehingga aku ikut terjatuh. Tetapi aku lebih tidak beruntung karena aku melewat batas jembatan dan jatuh ke sungai bersama Yudis. Sontak kami terseret arus yang sangat deras jauh ke selatan.

            Rizky sangat kaget dan segera berlari menyusul kami. Aku dan Yudis sudah saling melepaskan tangan dan terpisah. Arus sangat kuat sehingga kami tidak mampu berpijak dan melawan. Kami kesulitan bernafas karena kadang kepala kami masuk ke air dan keluar lagi, masuk lagi dan seterusnya. Sementara Rizky mengejar, aku berusaha mencari bebatuan besar.

            “Yudis! ‘Blup-blup’ Cari lah bebatuan! Lawan arus ini dengan berpijak di bebatuan itu!” Teriakku.

            Kami bekerja keras mencari bebatuan, tetapi selalu terlewati karena arus air yang kencang. Aku sempat menangkap salah satu batuan, tetapi aku akhirnya lepaskan karena itu membuat tanganku sakit. Akhirnya aku sempat melihat kalau di depanku ada bebatuan. Aku kelabakan karena berusaha menggerakan kakiku ke depan. Tepat saat aku akan membentur batu besar itu, aku berhasil berpijak dengan kakiku dan kini aku bertahan dari derasnya arus di bebatuan itu.

            Yudis masih lepas kendali dan bergerak semakin ke pinggir sungai. Untunglah matanya sigap dan menangkap sebuah akar pohon yang tersembul keluar. Yudis bertahan dan ia berusaha untuk naik ke sisi sungai. Rizky datang dan membantu Yudis naik. Kini tinggal aku yang masih bertahan melawan deras arus sungai.

            “Hei, Mang! Bertahanlah! Yudis, bagaimana kalau kau kembali dan mengambilkan tali?” Kata Rizky.

            Baru saja Yudis hendak beranjak pergi, kakiku terpeleset dari batu besar yang licin itu dan aku kembali terseret arus. Yudis dan Rizky berseru memanggilku dan mengejarku secepat yang mereka bisa. Aku kelabakan dan kulihat di depanku terdapat air terjun.

            “Gawat!” Pikirku.
         Aku terus terseret arus dan jatuh dari air terjun itu. Rizky dan Yudis sampai dan memperhatikan ke bawah. Aku sudah lenyap dari pandangan mereka. Air terjun itu tidak terlalu tinggi dan di bawahnya tidak terdapat bebatuan. Akhirnya aku naik ke permukaan dan mereka bersorak lega. Sungai di sana ternyata cukup dalam

Di bawah, arus sedikit berkurang dan aku mampu berpijak pada batu. Aku mencoba berjalan ke pinggir tetapi aku terpeleset dan terseret hingga aku berhasil berpegangan di salah satu akar yang tersembul pula keluar. Aku berhasil naik ke sisi sungai dan berbaring. Nafasku naik turun karena mengalami peristiwa yang hebat.

Rizky dan Yudis sudah turun dan menghampiriku. Kami semua sangat lega. Tidak ada luka yang berarti pada kami meski ada luka-luka kecil karena tergores bebatuan di sungai.

“Tadi itu gila!” Kata Yudis. “Maaf, Mang. Karena aku memegang tanganmu saat terpeleset, kita berdua jadi terjatuh ke sungai.”

Aku masih menatap lingkungan baru di sekitar kami. Lingkungan di dekat air terjun itu indah. Bahkan sepertinya lebih indah dari tempat kami berkemah dan bebatuan sungai itu benar-benar menyejukkan mata. Ada kolam yang cukup tenang di sana dan jernih penuh oleh ikan. Aku belum pernah ke daerah ini sebelumnya.

“Biarkan sajalah. Lagipula, karena itu kita menemukan tempat indah ini. Lihatlah. Bukankah asyik jika kita pindah kemari?” Usulku.

Semua melihat berkeliling. Memang benar dan semua pun menikmati pemandangan itu. Tampaknya kami sudah masuk jauh ke dalam hutan. Burung-burung lebih ramai dan berkicau riang di sini. Di sini ada tanah lapang yang dipenuhi rumput liar yang tidak terlalu tinggi. Akan enak jika kami pindah ke sana. Hutan ini ternyata lebih luas dan jauh lebih menyenangkan dari sangkaanku.

“Bagaimana?” Kata Rizky tiba-tiba. Semua memandang ke arahnya dengan heran. “Kenapa kalian bengong saja? Ayo, ini saatnya kita membereskan barang kita ke tempat yang sempurna.”

“Ini tidak benar-benar sempurna.” Kataku. “Tetapi sempurna untuk petualang cilik dan pemula seperti kita.”

“Kalau begitu ayolah. Kita belum meneliti tentang tumbuhan sedikitpun. Biar kita selesaikan hari ini. Aku ingin pulang bermain game lagi. Aku tidak membawa hp-ku. Tapi tidak kusangka berkemah di sini bersama kalian bertiga jauh lebih menyenangkan.” Katanya sambil menyingkirkan air dari rambutnya.

Kami tidak buang waktu. Kami rasa kami memang beruntung mendapat tugas ini. Jika tidak, tidak akan ada pengalaman seru ini.


- Revan


0 komentar:

resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut

Post a Comment

Silahkan yang ingin berkomentar. Tetapi mohon menggunakan bahasa yang sopan dan santun agar tidak menyinggung perasaan.