6. Di Mata Predator
Aku
terbangun karena Rizky berusaha membangunkanku. Dia menepuk-nepuk pipiku hingga
akhirnya aku terduduk. Hujan sudah reda dan petir sudah berhenti mengamuk.
Suasana hening kecuali nyanyian jangkrik dan katak bersahut-sahutan.
“Mang…”
bisiknya lirih. “Dimana aku bisa buang air kecil?”
Aku
tertegun. Otakku masih setengah sadar sehingga aku tidak menangkap apa yang ia
katakan.
“Apa?”
Kataku
“Menurutmu
dimana kiranya aku bisa buang air kecil?”
“Di
dekat sini ada pura. Agak ke dalam hutan ada pura. Mungkin di sana ada toilet.”
Kami
berdua mengambil masing-masing satu senter dan tongkat pramuka kami lalu keluar. Langit sudah
kembali cerah menaburkan serbuk cahaya indah. Suara jangkrik dan katak beradu
memecah keheningan. Suara aliran sungai terdengar mengalir cukup deras setelah diamuk badai.
Aku
berjalan lebih dulu mencari-cari jalan menuju bagian sungai yang dangkal untuk
diseberangi. Kami menyinari senter ke tanah dengan hati-hati dan waspada
terhadap binatang buas yang mungkin seperti ular. Suasana benar-benar gelap dan
jauh dari penerangan kota. Tempat ini seakan belum pernah dijamah. Sekali lagi
aku melihat sampah plastik dan memungutnya.
Kami
sampai di sisi bagian sungai yang cukup dangkal. Aku menyinari sungai itu dan
tampak sungai itu sudah keruh karena hujan dan alirannya pun cukup deras. Rizky
melempar kayu dan kayu itu pun terseret kencang. Aku menatap Rizky yang tampak
diam saja.
“Yah,
bagaimana ini? Masa pulang dan membangunkan keluargamu? Ini jam setengah satu
pagi.”
“Sebentar,
jika kita ke selatan sungai, akan ada jembatan yang biasa di pakai orang-orang
menyeberang. Kita coba lewat sana. Agak jauh dari sini tapi tidak ada pilihan
lagi.” Kataku.
Kami
bergegas ke selatan dan melewati tenda. Tetapi, aku berhenti.
“Tunggu.
Apa sebaiknya kita beritahu Yudis dahulu?” Kataku.
“Mungkin
lebih baik begitu. Ayo kita coba bangunkan dia.”
Kami
berbalik menuju tenda dan masuk berusaha membangunkan Yudis. Rizky
menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil memanggilnya. Tetapi ia tidak juga bangun
sampai rizky sedikit mencubit lehernya. Tetapi ia tetap pada posisinya.
“Kita
buang-buang waktu.” Kata Rizky. “Ia tidak akan bangun.”
Akhirnya
kami membiarkannya dan bergegas ke selatan. Semakin ke selatan. Area untuk
berpijak serasa semakin menyempit dan berdinding batu sehingga memperlambat
langkah kami. Ditambah hujan sebelumnya sehingga jalanan licin. Kami berjalan
berhati-hati sambil menyorotkan senter ke arah jalan.
Tiba-tiba,
senter kami menangkap makhluk bergerak. Kecil dan panjang mengkilat. Itu ular!
Ular panjang dan cukup besar. Kami kaget, tetapi tidak ada jalan untuk memutar
balik. Aku dan Rizky melangkah mundur sambil terus menyoroti ular itu. Tidak
ada jalan lain, sehingga kami sepakat untuk menyingkirkannya.
Aku
melangkah perlahan maju dengan tongkat pramukaku sambil memendam rasa takutku.
Ular itu tampak sudah waspada dan menoleh ke arahku. Secepat yang aku bisa, aku
menerjang dan berhasil menekan lehernya. Ular itu tampak berusaha melawan dan
melilit tongkat pramukaku.
“Ki,
cepat. Ambilkan kayu!” Bisikku lirih.
Rizky
menemukan dua kayu yang cukup kuat dan memberikannya dengan hati-hati menjepit
kepala ular itu dengan kayu. Sekejap lilitan ular itu berpindah ke kayu hingga
ke tangan Rizky. Rizky langsung melempar kayu sekaligus ular itu ke seberang sungai.
Kami menghembuskan nafas lega dan melanjutkan perjalanan.
Akhirnya
kami sampai di jembatan itu. Jembatan itu terbuat dari empat bambu besar yang
diikat dan dijadikan pijakan menyeberangi sungai. Kami menyeberangi jembatan
bambu itu dengan hati-hati agar tidak terpeleset ke sungai. Kami pun sampai di
seberang.
Kami
sekarang bisa berlari karena jalan di seberang tidak terlalu banyak batu dan
akar-akar pohon yang keluar tanah. Jalan semakin menanjak hingga kami kehabisan
nafas. Kami berhenti sejenak dan melihat ke atas. Tinggal sedikit lagi. Jadi
kami paksakan sedikit tenaga kami. Kami sampai di puncak dan sudah terlihat di
depan jalan setapak menuju pura yang kumaksud.
Kami
mengikuti jalan setapak itu dan sampai di pura itu. Pura itu tidak terlalu
besar dan untunglah memiliki toilet. Keadaannya gelap gulita karena lampunya
tidak dinyalakan. Tampaknya, tidak ada orang yang bermalam di sini. Aku
mengucapkan salam yang biasa dilakukan umat Hindu Bali diikuti Rizky. Kami
menuju toiletnya dan memeriksanya. Untunglah tidak dikunci. Aku juga jadi
merasa ingin buar air kecil saat itu.
Setelah
selesai, kami sempat melihat-lihat keadaan pura sebelum pergi. Ada kesan
tersendiri saat berada di pura itu dalam keadaan gelap gulita terutama aku yang
beragama Hindu. Setelah agak lama berada di sana, akhirnya ekosistem malam
mulai memperlihatkan kegiatannya. Aku mendengar nyanyian burung hantu. Segera
aku menyorotkan senter ke segala arah.
Kami
menemukan burung hantu itu. Namun sayangnya, tidak lama dia terbang tanpa meninggalkan
jejak. Kami kecewa meski dapat melihat wajah burung hantu itu sebentar. Aku
mendengar suara tikus. Benar saja, ada seekor tikus yang langsung lari ketika
ku soroti. Sayup-sayup aku kembali mendengar suara burung hantu. Kami segera
bersembunyi di balik tembok berharap burung hantu akan menangkap tikus yang
tadi kami lihat.
Saat
itu hampir purnama sehingga bulan bersinar terang dan aku berhasil melacak
dimana burung hantu yang kami dengar bertengger. Ia agak tersamar pepohonan.
Memang kalau burung hantu pandai menyamar. Sayup-sayup aku juga mendengar suara
tikus dan dibantu cahaya bulan, aku melihat seekor tikus besar di halaman pura
dan sangat dekat dengan tempat kami bersembunyi.
Pikiran
kami sempat terfokus kepada tikus hingga tanpa kami sadari, sesosok hitam
melesat secepat kilat di depan kami dan tikus itu menghilang. Kami kaget dan
mundur beberapa langkah hingga terduduk dan barulah kami menyadari itu adalah burung hantu tadi
yang berhasil menangkap tikus.
“Luar
biasa….” Pikirku.
Dengan
penampilannya yang kadang menyeramkan, rentangan sayapnya yang lebar dan
kemampuan terbangnya yang tanpa suara, burung itu cocok dinamai burung hantu.
Hal yang luar biasa bagi kami melihat burung ganas itu menangkap tikus dengan
mata kami sendiri. Rasanya terkesan misterius, tetapi hebat.
Setelah
kesadaran kami benar-benar pulih, kami bergegas menuruni bukit dan menuju
jembatan bambu. Sepanjang perjalanan, kami takjub dan gembira karena ternyata
di sana sudah muncul banyak kunang-kunang. Cukup banyak dan bahkan ini jumlah
terbanyak dari yang pernah aku lihat sebelumnya. Terbang perlahan menerangi
jalan kami. Kini kami tidak lagi berjalan cepat-cepat karena ingin menikmati
lampu sihir yang disediakan alam untuk kami.
Kami
sudah dekat dengan sungai, tetapi sepertinya masih cukup jauh dengan jembatan
bambu. Kunang-kunang itu juga berterbangan di atas sungai. Ini pemandangan yang
sangat indah. Aku berpikir bahwa kunang-kunang itu adalah peri kecil mungil
yang memandu kami pulang ke tenda kami.
Di
pinggir sungai, aku melihat sesuatu melompat-lompat. Itu katak. Aku buru-buru
memanggil Rizky dan kami perlahan mendekat ke pinggir sungai dan bersembunyi di
balik semak-semak. Ada banyak katak muncul di pinggi sungai dan bebatuan
sungai. Tanpa senter kami bisa melihatnya karena cahaya bulan di tambah cahaya
kunang-kunang sudah menerangi keadaan.
Kami
melirik ke arah katak yang berada di atas bebatuan batu. Kami tidak bisa
melihat warna katak dengan jelas. Katak itu melompat ke pinggir batu dan
kunang-kunang terbang di atasnya. Aku menebak apa yang akan dilakukan katak itu
dan benar saja. Ia menjulurkan lidahnya dan menangkap kunang-kunang itu untuk
santapannya. Aku jadi merasa kasihan karena katak itu mengambil dan
menghancurkan satu bola lampu sihir yang terang menenangkan saat itu. Tetapi
itulah rantai makanan. Rizky menepuk bahuku dan kami kembali melanjutkan
perjalanan.
Kami sampai di tenda kami dan Yudis
masih tertidur pulas. Segera kami merebahkan diri kembali di kantung tidur
masing-masing. Rizky sempat mengajakku melanjutkan penelitian tetapi aku
menolak karena tidak baik mengadakan penelitian hanya berdua sementara Yudis
dikesampingkan. Kami pun melanjutkan tidur dan menari-nari kembali dalam mimpi
masing-masing.
Namun, aku nyaris tidak bisa tidur. Aku
masih memikirkan kejadian yang tadi kami alami. Hal itu memberi kebahagiaan sendiri
dalam hatiku melihat alam masih berkaktivitas normal tanpa gangguan. Tetapi, aku
yakin jika kebiasaan buruk manusia dalam merusak lingkungan terus berkembang, alam
tidak akan subur dan sehat seperti dulu, atau bahkan seperti ini. Aku terduduk dan
berdoa lalu kucamkan dalam hatiku untuk mengurangi perbuatan burukku yang dapat
merusak alam.
- Revan







0 komentar:
Post a Comment
Silahkan yang ingin berkomentar. Tetapi mohon menggunakan bahasa yang sopan dan santun agar tidak menyinggung perasaan.