Monday, 22 February 2016

The Camp - The First Journey Eps.6


6. Di Mata Predator

Aku terbangun karena Rizky berusaha membangunkanku. Dia menepuk-nepuk pipiku hingga akhirnya aku terduduk. Hujan sudah reda dan petir sudah berhenti mengamuk. Suasana hening kecuali nyanyian jangkrik dan katak bersahut-sahutan.


“Mang…” bisiknya lirih. “Dimana aku bisa buang air kecil?”

Aku tertegun. Otakku masih setengah sadar sehingga aku tidak menangkap apa yang ia katakan.

“Apa?” Kataku

“Menurutmu dimana kiranya aku bisa buang air kecil?”

“Di dekat sini ada pura. Agak ke dalam hutan ada pura. Mungkin di sana ada toilet.”

Kami berdua mengambil masing-masing satu senter dan tongkat  pramuka kami lalu keluar. Langit sudah kembali cerah menaburkan serbuk cahaya indah. Suara jangkrik dan katak beradu memecah keheningan. Suara aliran sungai terdengar mengalir cukup deras setelah diamuk badai.

Aku berjalan lebih dulu mencari-cari jalan menuju bagian sungai yang dangkal untuk diseberangi. Kami menyinari senter ke tanah dengan hati-hati dan waspada terhadap binatang buas yang mungkin seperti ular. Suasana benar-benar gelap dan jauh dari penerangan kota. Tempat ini seakan belum pernah dijamah. Sekali lagi aku melihat sampah plastik dan memungutnya.

Kami sampai di sisi bagian sungai yang cukup dangkal. Aku menyinari sungai itu dan tampak sungai itu sudah keruh karena hujan dan alirannya pun cukup deras. Rizky melempar kayu dan kayu itu pun terseret kencang. Aku menatap Rizky yang tampak diam saja.

“Yah, bagaimana ini? Masa pulang dan membangunkan keluargamu? Ini jam setengah satu pagi.”

“Sebentar, jika kita ke selatan sungai, akan ada jembatan yang biasa di pakai orang-orang menyeberang. Kita coba lewat sana. Agak jauh dari sini tapi tidak ada pilihan lagi.” Kataku.

Kami bergegas ke selatan dan melewati tenda. Tetapi, aku berhenti.

“Tunggu. Apa sebaiknya kita beritahu Yudis dahulu?” Kataku.

“Mungkin lebih baik begitu. Ayo kita coba bangunkan dia.”

Kami berbalik menuju tenda dan masuk berusaha membangunkan Yudis. Rizky menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil memanggilnya. Tetapi ia tidak juga bangun sampai rizky sedikit mencubit lehernya. Tetapi ia tetap pada posisinya.

“Kita buang-buang waktu.” Kata Rizky. “Ia tidak akan bangun.”

Akhirnya kami membiarkannya dan bergegas ke selatan. Semakin ke selatan. Area untuk berpijak serasa semakin menyempit dan berdinding batu sehingga memperlambat langkah kami. Ditambah hujan sebelumnya sehingga jalanan licin. Kami berjalan berhati-hati sambil menyorotkan senter ke arah jalan.

Tiba-tiba, senter kami menangkap makhluk bergerak. Kecil dan panjang mengkilat. Itu ular! Ular panjang dan cukup besar. Kami kaget, tetapi tidak ada jalan untuk memutar balik. Aku dan Rizky melangkah mundur sambil terus menyoroti ular itu. Tidak ada jalan lain, sehingga kami sepakat untuk menyingkirkannya.

Aku melangkah perlahan maju dengan tongkat pramukaku sambil memendam rasa takutku. Ular itu tampak sudah waspada dan menoleh ke arahku. Secepat yang aku bisa, aku menerjang dan berhasil menekan lehernya. Ular itu tampak berusaha melawan dan melilit tongkat pramukaku.

“Ki, cepat. Ambilkan kayu!” Bisikku lirih.

Rizky menemukan dua kayu yang cukup kuat dan memberikannya dengan hati-hati menjepit kepala ular itu dengan kayu. Sekejap lilitan ular itu berpindah ke kayu hingga ke tangan Rizky. Rizky langsung melempar kayu sekaligus ular itu ke seberang sungai. Kami menghembuskan nafas lega dan melanjutkan perjalanan.

Akhirnya kami sampai di jembatan itu. Jembatan itu terbuat dari empat bambu besar yang diikat dan dijadikan pijakan menyeberangi sungai. Kami menyeberangi jembatan bambu itu dengan hati-hati agar tidak terpeleset ke sungai. Kami pun sampai di seberang.

Kami sekarang bisa berlari karena jalan di seberang tidak terlalu banyak batu dan akar-akar pohon yang keluar tanah. Jalan semakin menanjak hingga kami kehabisan nafas. Kami berhenti sejenak dan melihat ke atas. Tinggal sedikit lagi. Jadi kami paksakan sedikit tenaga kami. Kami sampai di puncak dan sudah terlihat di depan jalan setapak menuju pura yang kumaksud.

Kami mengikuti jalan setapak itu dan sampai di pura itu. Pura itu tidak terlalu besar dan untunglah memiliki toilet. Keadaannya gelap gulita karena lampunya tidak dinyalakan. Tampaknya, tidak ada orang yang bermalam di sini. Aku mengucapkan salam yang biasa dilakukan umat Hindu Bali diikuti Rizky. Kami menuju toiletnya dan memeriksanya. Untunglah tidak dikunci. Aku juga jadi merasa ingin buar air kecil saat itu.

Setelah selesai, kami sempat melihat-lihat keadaan pura sebelum pergi. Ada kesan tersendiri saat berada di pura itu dalam keadaan gelap gulita terutama aku yang beragama Hindu. Setelah agak lama berada di sana, akhirnya ekosistem malam mulai memperlihatkan kegiatannya. Aku mendengar nyanyian burung hantu. Segera aku menyorotkan senter ke segala arah.

Kami menemukan burung hantu itu. Namun sayangnya, tidak lama dia terbang tanpa meninggalkan jejak. Kami kecewa meski dapat melihat wajah burung hantu itu sebentar. Aku mendengar suara tikus. Benar saja, ada seekor tikus yang langsung lari ketika ku soroti. Sayup-sayup aku kembali mendengar suara burung hantu. Kami segera bersembunyi di balik tembok berharap burung hantu akan menangkap tikus yang tadi kami lihat.

Saat itu hampir purnama sehingga bulan bersinar terang dan aku berhasil melacak dimana burung hantu yang kami dengar bertengger. Ia agak tersamar pepohonan. Memang kalau burung hantu pandai menyamar. Sayup-sayup aku juga mendengar suara tikus dan dibantu cahaya bulan, aku melihat seekor tikus besar di halaman pura dan sangat dekat dengan tempat kami bersembunyi.

Pikiran kami sempat terfokus kepada tikus hingga tanpa kami sadari, sesosok hitam melesat secepat kilat di depan kami dan tikus itu menghilang. Kami kaget dan mundur beberapa langkah hingga terduduk dan barulah kami menyadari itu adalah burung hantu tadi yang berhasil menangkap tikus.

“Luar biasa….” Pikirku.

Dengan penampilannya yang kadang menyeramkan, rentangan sayapnya yang lebar dan kemampuan terbangnya yang tanpa suara, burung itu cocok dinamai burung hantu. Hal yang luar biasa bagi kami melihat burung ganas itu menangkap tikus dengan mata kami sendiri. Rasanya terkesan misterius, tetapi hebat.

Setelah kesadaran kami benar-benar pulih, kami bergegas menuruni bukit dan menuju jembatan bambu. Sepanjang perjalanan, kami takjub dan gembira karena ternyata di sana sudah muncul banyak kunang-kunang. Cukup banyak dan bahkan ini jumlah terbanyak dari yang pernah aku lihat sebelumnya. Terbang perlahan menerangi jalan kami. Kini kami tidak lagi berjalan cepat-cepat karena ingin menikmati lampu sihir yang disediakan alam untuk kami.

Kami sudah dekat dengan sungai, tetapi sepertinya masih cukup jauh dengan jembatan bambu. Kunang-kunang itu juga berterbangan di atas sungai. Ini pemandangan yang sangat indah. Aku berpikir bahwa kunang-kunang itu adalah peri kecil mungil yang memandu kami pulang ke tenda kami.

Di pinggir sungai, aku melihat sesuatu melompat-lompat. Itu katak. Aku buru-buru memanggil Rizky dan kami perlahan mendekat ke pinggir sungai dan bersembunyi di balik semak-semak. Ada banyak katak muncul di pinggi sungai dan bebatuan sungai. Tanpa senter kami bisa melihatnya karena cahaya bulan di tambah cahaya kunang-kunang sudah menerangi keadaan.

Kami melirik ke arah katak yang berada di atas bebatuan batu. Kami tidak bisa melihat warna katak dengan jelas. Katak itu melompat ke pinggir batu dan kunang-kunang terbang di atasnya. Aku menebak apa yang akan dilakukan katak itu dan benar saja. Ia menjulurkan lidahnya dan menangkap kunang-kunang itu untuk santapannya. Aku jadi merasa kasihan karena katak itu mengambil dan menghancurkan satu bola lampu sihir yang terang menenangkan saat itu. Tetapi itulah rantai makanan. Rizky menepuk bahuku dan kami kembali melanjutkan perjalanan.

            Kami sampai di tenda kami dan Yudis masih tertidur pulas. Segera kami merebahkan diri kembali di kantung tidur masing-masing. Rizky sempat mengajakku melanjutkan penelitian tetapi aku menolak karena tidak baik mengadakan penelitian hanya berdua sementara Yudis dikesampingkan. Kami pun melanjutkan tidur dan menari-nari kembali dalam mimpi masing-masing.

            Namun, aku nyaris tidak bisa tidur. Aku masih memikirkan kejadian yang tadi kami alami. Hal itu memberi kebahagiaan sendiri dalam hatiku melihat alam masih berkaktivitas normal tanpa gangguan. Tetapi, aku yakin jika kebiasaan buruk manusia dalam merusak lingkungan terus berkembang, alam tidak akan subur dan sehat seperti dulu, atau bahkan seperti ini. Aku terduduk dan berdoa lalu kucamkan dalam hatiku untuk mengurangi perbuatan burukku yang dapat merusak alam.

 
- Revan


0 komentar:

resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut

Post a Comment

Silahkan yang ingin berkomentar. Tetapi mohon menggunakan bahasa yang sopan dan santun agar tidak menyinggung perasaan.