Saturday, 24 October 2015

The Camp : The First Journey Eps.3


3. Persiapan

 
Aku benar-benar senang. Segera aku naik ke kamarku di lantai atas untuk mempersiapkan bajuku. Ibu menyiapkan bekalku, agar cepat aku pun membantunya. Aku berpikir, apakah aku sebaiknya membawa daging mentah atau yang sudah matang? Kalau sudah matang nanti cepat basi. Tapi yang mentah bisa kuawetkan dengan pengawet alami tentunya.


“Ibu, sebaiknya kubawa daging masak atau mentah?” Tanyaku.

“Kau ingin masak sendiri?” Tanya ibuku sambil terus melanjutkan mengiris daging.

Aku berpikir sejenak. Kini pertanyaan di otakku langsung berubah. Apakah aku ingin masak sendiri atau tidak? Apa kemungkinannya? Kalau aku masak sendiri, nanti waktu untuk mengamati jadi lebih sedikit. Kalau, bawa yang sudah dimasak, tapi aku ingin mencoba merasakan kemah dan memasak sendiri makanannya.

“Aku ingin memasak sendiri tetapi takut waktunya tidak cukup untuk meneliti, tapi… mungkin aku akan membawa daging mentah saja untuk memasak sendiri.”

“Siapa yang membawa kompor kecil?” Tanya ibuku.

“Yudis.”

Ibuku mengangguk dan kembali mengiris daging. Aku membuka lemari es untuk mencari sayur. Segera kuambil tujuh buah wortel, tujuh brokoli, sepuluh kantong jamur, tahu, dan empat bungkus tempe. Begitu banyaknya kuambil hingga kulkasku hanya tersisa makanan kecil saja. Sedangkan semua sayurannya hilang. Ibuku sangat kaget melihat perbuatanku. Lebih-lebih ketika melihat kulkas kami kosong melompong.

“Demi Tuhan, Komang! Kenapa semua kau bawa? Nanti apa yang akan aku, ayahmu, dan kakak-kakakmu makan?” Kata ibu.

“Hah? Iya sih. Tapi nanti takut tidak cukup. Lagipula kami bertiga kan makannya banyak…”

“Aduh, Komang. Kan tempat kemahmu dekat. Kalau kekurangan makanan datang saja ke sini.”

“Oh iya. Benar juga.”

“Haah… Komang, Komang. Kau ini… sudahlah. Kau siapkan pakaianmu. Biar aku yang menyiapkan makanan kalian.”

Ibuku mendesah dan mengatur kembali sayurannya. Aku kembali memeriksa bajuku dan alat-alat lain agar tidak ada yang tertinggal. Buku tulis, alat tulis, masker, pakaian, jaket, selimut. Untung aku punya kantung tidur sehingga segera kubawa. Kubawa korek api, senter, lilin, jam tangan, tali dan tongkat pramukaku. Aku tidak ingin membawa terlalu banyak, dan kupikir ini tidak banyak. Bagaimana dengan alat mandi, kami tidak ingin mencemari sungai jadi kami akan mandi di rumahku. Tetapi kami membawa sikat gigi dan handuk. Untung tasku muat semua barangku dan tidak terlalu berat.

Di rumahnya, Yudis membongkar lemarinya mencari pakaian yang cocok untuk kemah. Kamarnya berantakan dan pakaian berserakan di sana-sini. Ia mengunci pintu kamarnya sepertinya agar tidak ada yang masuk. Meskipun saat mencari baju ia berantakan, saat memasukkannya sangat rapi. Baju yang akan ia bawa di lipatnya rapi sekali dan di taruh ke dalam tas dengan sangat rapi.

“Bu! Apa sebaiknya aku mandi di sungai?”

“Jangan! Nanti kau gatal-gatal! Mandi di rumahnya Komang saja.”

“Hehehe… sungainya bersih sekali kok. Ya sudah. Akan kuambil peralatan mandiku. Apa lagi yang harus kubawa? Apa menurut ibu aku harus bawa kantong tidur?”

“Menurut ibu sih iya. Tapi kita tidak punya kantong tidur, jadi coba tanya Rizky, apa ia punya kantong tidur?”

Yudis segera mengambil handphonenya dan mengirim pesan singkat kepada Rizky. Selagi menunggu ia memikirkan yang lain. Ia membuka game Clash of Clans di ponsel pintarnya. Tapi Rizky lama sekali membalasnya. Kenapa Rizky lama membalasnya, sebenarnya ia sedang tidur. Ponselnya dimatikan sehingga tidak terdengar dering pesan masuk. Yaah, persiapan kami memang agak aneh karena kami tidak biasa mengatur barang.

Sekitar pukul empat sore, aku bercakap-cakap dengan Rizky dan Yudis melalui obrolan banyak di BBM. Kami membicarakan hal-hal yang berkaitan tentang besok. Tentu kami menyepakati untuk segera menyelesaikan tugas secepatnya karena kami ingin bersantai. Aku benar-benar tidak sabar menunggu esok. Langit yang cerah dan sinar matahari yang hangat membakar semangatku sehingga aku memutuskan untuk mendatangi sungai tempat kami berkemah sebentar.

Di sungai itu aku hanya berjalan-jalan. Aku memikirkan perkataan Rizky soal ikan itu ketakutan saat melihat manusia karena jarang melihat manusia. Aku baru kembali sekitar pukul setengah enam sore. Aku berolahraga sebentar dan memeriksa perlengkapan yang cukup banyak seperti akan mendaki gunung. Aku berpikir, kira-kira apa yang akan terjadi nanti saat kami berkemah? Aku ingin segera mengetahui jawabannya. (Bersambung)



- Revan

3 comments:

Silahkan yang ingin berkomentar. Tetapi mohon menggunakan bahasa yang sopan dan santun agar tidak menyinggung perasaan.