3. Persiapan
Aku benar-benar
senang. Segera aku naik ke kamarku di lantai atas untuk mempersiapkan bajuku.
Ibu menyiapkan bekalku, agar cepat aku pun membantunya. Aku berpikir, apakah aku
sebaiknya membawa daging mentah atau yang sudah matang? Kalau sudah matang
nanti cepat basi. Tapi yang mentah bisa kuawetkan dengan pengawet alami
tentunya.
“Ibu, sebaiknya
kubawa daging masak atau mentah?” Tanyaku.
“Kau ingin masak
sendiri?” Tanya ibuku sambil terus melanjutkan mengiris daging.
Aku berpikir
sejenak. Kini pertanyaan di otakku langsung berubah. Apakah aku ingin masak
sendiri atau tidak? Apa kemungkinannya? Kalau aku masak sendiri, nanti waktu
untuk mengamati jadi lebih sedikit. Kalau, bawa yang sudah dimasak, tapi aku ingin
mencoba merasakan kemah dan memasak sendiri makanannya.
“Aku ingin
memasak sendiri tetapi takut waktunya tidak cukup untuk meneliti, tapi… mungkin
aku akan membawa daging mentah saja untuk memasak sendiri.”
“Siapa yang
membawa kompor kecil?” Tanya ibuku.
“Yudis.”
Ibuku mengangguk
dan kembali mengiris daging. Aku membuka lemari es untuk mencari sayur. Segera
kuambil tujuh buah wortel, tujuh brokoli, sepuluh kantong jamur, tahu, dan empat
bungkus tempe. Begitu banyaknya kuambil hingga kulkasku hanya tersisa makanan
kecil saja. Sedangkan semua sayurannya hilang. Ibuku sangat kaget melihat
perbuatanku. Lebih-lebih ketika melihat kulkas kami kosong melompong.
“Demi Tuhan,
Komang! Kenapa semua kau bawa? Nanti apa yang akan aku, ayahmu, dan
kakak-kakakmu makan?” Kata ibu.
“Hah? Iya sih.
Tapi nanti takut tidak cukup. Lagipula kami bertiga kan makannya banyak…”
“Aduh, Komang.
Kan tempat kemahmu dekat. Kalau kekurangan makanan datang saja ke sini.”
“Oh iya. Benar
juga.”
“Haah… Komang,
Komang. Kau ini… sudahlah. Kau siapkan pakaianmu. Biar aku yang menyiapkan makanan
kalian.”
Ibuku mendesah
dan mengatur kembali sayurannya. Aku kembali memeriksa bajuku dan alat-alat
lain agar tidak ada yang tertinggal. Buku tulis, alat tulis, masker, pakaian,
jaket, selimut. Untung aku punya kantung tidur sehingga segera kubawa. Kubawa
korek api, senter, lilin, jam tangan, tali dan tongkat pramukaku. Aku tidak
ingin membawa terlalu banyak, dan kupikir ini tidak banyak. Bagaimana dengan
alat mandi, kami tidak ingin mencemari sungai jadi kami akan mandi di rumahku.
Tetapi kami membawa sikat gigi dan handuk. Untung tasku muat semua barangku dan
tidak terlalu berat.
Di rumahnya,
Yudis membongkar lemarinya mencari pakaian yang cocok untuk kemah. Kamarnya
berantakan dan pakaian berserakan di sana-sini. Ia mengunci pintu kamarnya
sepertinya agar tidak ada yang masuk. Meskipun saat mencari baju ia berantakan,
saat memasukkannya sangat rapi. Baju yang akan ia bawa di lipatnya rapi sekali
dan di taruh ke dalam tas dengan sangat rapi.
“Bu! Apa
sebaiknya aku mandi di sungai?”
“Jangan! Nanti
kau gatal-gatal! Mandi di rumahnya Komang saja.”
“Hehehe…
sungainya bersih sekali kok. Ya sudah. Akan kuambil peralatan mandiku. Apa lagi
yang harus kubawa? Apa menurut ibu aku harus bawa kantong tidur?”
“Menurut ibu sih
iya. Tapi kita tidak punya kantong tidur, jadi coba tanya Rizky, apa ia punya
kantong tidur?”
Yudis segera
mengambil handphonenya dan mengirim pesan singkat kepada Rizky. Selagi menunggu
ia memikirkan yang lain. Ia membuka game Clash of Clans di ponsel pintarnya.
Tapi Rizky lama sekali membalasnya. Kenapa Rizky lama membalasnya, sebenarnya
ia sedang tidur. Ponselnya dimatikan sehingga tidak terdengar dering pesan
masuk. Yaah, persiapan kami memang agak aneh karena kami tidak biasa mengatur
barang.
Sekitar pukul empat
sore, aku bercakap-cakap dengan Rizky dan Yudis melalui obrolan banyak di BBM.
Kami membicarakan hal-hal yang berkaitan tentang besok. Tentu kami menyepakati untuk
segera menyelesaikan tugas secepatnya karena kami ingin bersantai. Aku
benar-benar tidak sabar menunggu esok. Langit yang cerah dan sinar matahari
yang hangat membakar semangatku sehingga aku memutuskan untuk mendatangi sungai
tempat kami berkemah sebentar.
Di sungai itu aku
hanya berjalan-jalan. Aku memikirkan perkataan Rizky soal ikan itu ketakutan
saat melihat manusia karena jarang melihat manusia. Aku baru kembali sekitar
pukul setengah enam sore. Aku berolahraga sebentar dan memeriksa perlengkapan
yang cukup banyak seperti akan mendaki gunung. Aku berpikir, kira-kira apa yang
akan terjadi nanti saat kami berkemah? Aku ingin segera mengetahui jawabannya. (Bersambung)
- Revan
- Revan







👍👍
ReplyDeleteKeren kok Wik 👍👍
ReplyDeleteTambahin tokoh tokohnya e
ReplyDelete