Sunday, 29 November 2015

The Camp - The First Journey Eps.4

Hari Ketiga

4. Kemah Pertama


            Keesokan harinya, kami sudah berkumpul di tepi sungai dengan perbekalan masing-masing. Yudis dan Rizky memasang tenda sedangkan aku mencari kayu bakar. Aku memintanya dari salah satu tetanggaku yang mempunyai banyak sekali kayu bakar. Yudis karena jarang mengikuti Pramuka di sekolah, ia agak kesulitan memasang tendanya sedangkan Rizky tampak capek memberitahu Yudis. Kasihan Rizky, keringatnya mengucur membanjiri bajunya karena capek dan pekerjaan lebih banyak ia yang kerjakan. Yudis hanya bisa bengong memandangi Rizky mengerjakan membangun tenda. Aku datang sambil membawa dua ikat besar kayu bakar.


               “Banyak sekali kayu bakarnya!” Kata Yudis.

        “Ya. Pak Made benar-benar bermurah hati dan memberiku banyak. Ia bahkan membiarkan kita mengambil lagi jika ini kurang. Kalian lama sekali membangun tendanya…” Jawabku.

            “Hah, Yudis, Yudis ini kurang ikut Pramuka. Masa mengikat simpul jangka sederhana saja tidak bisa?” Kata Rizky.

            “Maaf…” Jawab Yudis pelan.

            Akhirnya aku terpaksa ikut membantu memasang tenda yang selesai sekitar lima belas menit kemudian. Setelah itu kami segera merapikan barang-barang kami. Tenda itu ternyata cukup untuk kami bertiga meski sudah berisi barang-barang kami. Tetapi barang seperti tongkat Pramuka kami taruh diluar agar tidak mengganggu.

            Setelah selesai merapikan barang-barang, aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Segar sekali udara pagi itu di dalam hutan kecil. Aku segera melangkah menuju Rizky dan Yudis yang masih duduk-duduk. Kami beristirahat selama lima belas menit sebelum akhirnya melanjutkan penelitian. Rizky kembali melakukan penelitian terhadap ikan. Yudis mencari hewan air yang bisa diteliti dan aku mencari hewan darat yang akan kuteliti. Tugas dikumpul lima hari lagi jadi kami tidak bisa bersantai.

            Yudis, pergi ke utara sungai ke tempat ia dulu terjatuh. Di sana dasarnya berbatu. Ia melihat kembali serangga air dan ikan-ikan berenang dengan riangnya. Ia berusaha mencari bagian yang dalam. Sementara aku menelusuri hutan kecil itu. Meski begitu, hutan itu sebenarnya lebat dan sering dijamah. Tetapi kemudian aku tertegun mengingat hutan yang sering dijamah ini. Segera aku berlari kembali ke Rizky sebelum ia melakukan kesalahan.

            Tetapi Rizky tidak ada di tempatnya semula. Aku mencari ke kemah tetapi ia juga tidak ada. Ia sudah pindah. Aku mencoba ke utara dan kutemukan ia berjalan menuju tempat Yudis.

            “Hei, Kiki. Kita melakukan kesalahan.” Seruku.

            “Hah, apa maksudmu?” Tanyanya.

            “Sebentar. Apa yang kau tulis tentang ikan yang ketakutan saat kita mendekat?”

            “Bahwa tempat ini jarang dijamah sehingga ikan-ikan itu tidak mengenal kita dan ketakutan melihat sesuatu yang asing.”

            Inilah yang kukhawatirkan. Untuk saja ini bukan kesalahan yang begitu fatal
.
            “Justru menurutku karena belum kenal, mereka tidak akan takut pada kita karena tidak pernah melihat kita. Aku juga baru ingat kadang-kadang di sini lewat orang yang mencari kayu bakar atau semacamnya.”

            “Hah? Apa benar begitu?”

            “Iya. Dan aku juga pernah menonton di acara televisi jika kita meneriaki binatang dan reaksi mereka tidak ada itu artinya tempat itu belum pernah dijamah manusia sehingga mereka belum mengenal manusia.”

            “Tunggu, tunggu. Aku bingung. Jika pendapatku tadi kedengaran masuk akal, pendapatmu juga masuk akal. Aku bingung harus memilih yang mana?”

            “Apa maksudmu? Tentu saja kita harus memilih pendapatku.”

            “Yah, kau bilang di sini kadang ada orang yang mencari kayu bakar atau semacamnya, kan?”

            “Iya.”

            “Baiklah. Kita akan memakai pendapatmu. Aku hanya tinggal mengubah sedikit. Sekarang aku akan mencari Yudis. Aku ingin tahu apa saja yang ia temukan. Kau sebaiknya segera meneliti daratan lagi.”

            Aku pun kembali ke belantara hutan mencari hewan, serangga dan tumbuhan. Aku sempat menemui ayam yang mungkin berasal dari kampung terdekat, tupai, kadal, dan burung. Ini cukup seru karena aku suka berpetualang menjelajahi hutan. Di sana banyak sekali ada burung, berkicau tiada henti hingga ramai sekali ditambah suara serangga seperti jangkrik dan lainnya. Aku sempat membaca fakta di internet kalau ada banyak burung di suatu wilayah, berarti daerah itu udaranya masih bersih. Jadi kutulis demikian.

            Tak terasa hari sudah siang dan perutku mulai lapar sehingga aku tidak menolak ketika Yudis dan Rizky mengajakku makan. Yah sekalian belajar memasak, kami memasak lebih awal agar lebih cepat selesai karena kami belum pengalaman memasak. Kunyalakan kompor kecil yang di bawa Yudis dan Rizky mengambil air untuk memasak nasi. Tentu saja kami tidak menggunakan air sungai, kami sudah menyediakan air khusus untuk memasak nasi.

            Yudis mulai mencoba memotong wortel. Karena belum pengalaman, agak lama ia memotongnya. Nasi sudah siap dimasak, tetapi belum kami rebus. Aku memotong ayam sedangkan Rizky memotong tempe. Ternyata memotong ayam juga melelahkan. Rizky selesai lebih dulu dan membantuku memotong ayam.

            Yudis sudah selesai memotong wortel dan sekarang menyiapkan wajan dan diberi minyak. Aku pun selesai memotong ayam dan beranjak mendekati Yudis. Tapi aku kaget melihat wortel hasil potongan Yudis. Sebagian wortel tampak terpotong bagus. Tetapi sisanya hanya terbagi menjadi tiga bagian besar.

            “Apaan ini? Wortelnya kenapa begini?” Kata Rizky.

            “Kenapa wortelnya di potong besar-besar? Hanya tiga bagian lagi?” Tanyaku.

            “Yah karena aku sudah lapar sekali, jadi agar cepat kupotong besar-besar saja. Tidak apa kan?” Jawab Yudis santai.

            Cerdas sekali anak ini. Yah tidak apa-apalah. Sementara dirumah aku juga sering makan wortel rebus tanpa dipotong.

Minyak sudah cukup panas dan Yudis memasukkan wortelnya. Kami sengaja tidak memotong bawang karena hanya menggunakan sayur wortel. Rizky yang mengaduk wortel karena takut Yudis melakukan hal yang tidak kami duga. Selagi menunggu, aku merevisi hasil penelitian kami dengan Yudis. Rizky tampaknya belum memperbaiki tentang kebiasaan ikan yang ketakutan ketika didekati sehingga aku mencoretnya dan mengganti yang benar.

Rizky sudah selesai memasak wortel, ayam, tempe dan kini ia merebus nasi. Selagi menunggu, kami merevisi bersama hasil penelitian. Yudis menyalinnya ke lembar yang lebih baru. Tak terasa ternyata kami malah keasyikan dan lupa tentang nasi yang kami masak karena kami melakukannya di depan tenda sedangkan kami memasak di belakang tenda.

Yudis yang pertama kali sadar akan itu dan mengingatkan kami sehingga kami terbelalak dan bergegas ke belakang tenda. Begitu kami buka tutup panci, ternyata air sudah sangat kering dan nasi mengeluarkan bau gosong. Rizky buru-buru mematikan kompor dan memeriksa nasi itu.

“Wah, parah. Bagian bawahnya benar-benar gosong. Tidak bisa kita makan. Jadi untuk nanti malam terpaksa kita masak lagi nasi baru padahal ini untuk nanti malam juga.” Kata Rizky.

“Apa boleh buat, kita syukuri saja. Sekarang ayo makan. Perutku sudah berteriak begitu melihat hidangan itu meski sederhana.” Jawabku.

Kami pun duduk melingkar dan makan dengan nikmat. Meski sederhana tapi enak juga. Yudis mengambil garam dan kecap lalu mencampurnya ke nasinya. Aku agak aneh melihat Yudis yang makan terlalu banyak kecap.

“Yudis, apa di rumahmu kau tidak pernah makan kecap? Atau malah sering sekali?” Tanyaku.

“Jarang sekali. Mumpung ibuku tidak mengawasiku, aku ingin makan nasi dengan kecap banyak. Enak juga ya.” Jawab Yudis.

“Awas nanti kau malah kecanduan lho.” Kata Rizky menakuti.

“Tidak akan.” Jawab Yudis santai sambil terus makan dengan lahap.

Kami makan dengan lahap ditemani konser kalaborasi antara burung, serangga dan suara air. Enak sekali makan di situ. Tapi belum sampai tiga menit piring Yudis sudah licin tandas tanpa sisa selain kecap yang menempel. Cepat sekali dia makan.

“Cepat sekali kau makannya.” Kataku.

“Awas nanti kau sakit perut lho.” Kata Rizky.

“Tidak akan. Dimana aku mencuci piring sekarang?” Jawab Yudis santai sambil mengambil air untuk mencuci piring.

Aku melanjutkan makanku sambil termenung. Kami masih sempat istirahat selesai makan dan mencuci piring sebelum melanjutkan kembali penelitian. Kiranya empat hari kedepan kami sudah bisa menyelesaikan pengamatan.

Kami beristirahat cukup lama hingga kami ketiduran di payungi pepohonan yang rimbun dan diiringi musik tidur oleh burung-burung dan dibelai-belai angin sepoi-sepoi. Meski sudah siang, di sana tetap saja sejuk. (Bersambung)



-          Revan

1 comment:

Silahkan yang ingin berkomentar. Tetapi mohon menggunakan bahasa yang sopan dan santun agar tidak menyinggung perasaan.