Hari
Ketiga
4. Kemah Pertama
Keesokan
harinya, kami sudah berkumpul di tepi sungai dengan perbekalan masing-masing.
Yudis dan Rizky memasang tenda sedangkan aku mencari kayu bakar. Aku memintanya
dari salah satu tetanggaku yang mempunyai banyak sekali kayu bakar. Yudis
karena jarang mengikuti Pramuka di sekolah, ia agak kesulitan memasang tendanya
sedangkan Rizky tampak capek memberitahu Yudis. Kasihan Rizky, keringatnya
mengucur membanjiri bajunya karena capek dan pekerjaan lebih banyak ia yang
kerjakan. Yudis hanya bisa bengong memandangi Rizky mengerjakan membangun
tenda. Aku datang sambil membawa dua ikat besar kayu bakar.
“Banyak
sekali kayu bakarnya!” Kata Yudis.
“Ya.
Pak Made benar-benar bermurah hati dan memberiku banyak. Ia bahkan membiarkan
kita mengambil lagi jika ini kurang. Kalian lama sekali membangun tendanya…”
Jawabku.
“Hah,
Yudis, Yudis ini kurang ikut Pramuka. Masa mengikat simpul jangka sederhana
saja tidak bisa?” Kata Rizky.
“Maaf…”
Jawab Yudis pelan.
Akhirnya
aku terpaksa ikut membantu memasang tenda yang selesai sekitar lima belas menit
kemudian. Setelah itu kami segera merapikan barang-barang kami.
Tenda itu ternyata cukup untuk kami bertiga meski sudah berisi barang-barang
kami. Tetapi barang seperti tongkat Pramuka kami taruh diluar agar tidak
mengganggu.
Setelah selesai merapikan
barang-barang, aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Segar sekali
udara pagi itu di dalam hutan kecil. Aku segera melangkah menuju Rizky dan
Yudis yang masih duduk-duduk. Kami beristirahat selama lima belas menit sebelum
akhirnya melanjutkan penelitian. Rizky kembali melakukan penelitian terhadap
ikan. Yudis mencari hewan air yang bisa diteliti dan aku mencari hewan darat
yang akan kuteliti. Tugas dikumpul lima hari lagi jadi kami tidak bisa
bersantai.
Yudis, pergi ke utara sungai ke
tempat ia dulu terjatuh. Di sana dasarnya berbatu. Ia melihat kembali serangga
air dan ikan-ikan berenang dengan riangnya. Ia berusaha mencari bagian yang
dalam. Sementara aku menelusuri hutan kecil itu. Meski begitu, hutan itu
sebenarnya lebat dan sering dijamah. Tetapi kemudian aku tertegun mengingat
hutan yang sering dijamah ini. Segera aku berlari kembali ke Rizky sebelum ia
melakukan kesalahan.
Tetapi Rizky tidak ada di tempatnya
semula. Aku mencari ke kemah tetapi ia juga tidak ada. Ia sudah pindah. Aku
mencoba ke utara dan kutemukan ia berjalan menuju tempat Yudis.
“Hei, Kiki. Kita melakukan
kesalahan.” Seruku.
“Hah, apa maksudmu?” Tanyanya.
“Sebentar. Apa yang kau tulis
tentang ikan yang ketakutan saat kita mendekat?”
“Bahwa tempat ini jarang dijamah
sehingga ikan-ikan itu tidak mengenal kita dan ketakutan melihat sesuatu yang
asing.”
Inilah yang kukhawatirkan. Untuk
saja ini bukan kesalahan yang begitu fatal
.
“Justru menurutku karena belum
kenal, mereka tidak akan takut pada kita karena tidak pernah melihat kita. Aku
juga baru ingat kadang-kadang di sini lewat orang yang mencari kayu bakar atau
semacamnya.”
“Hah? Apa benar begitu?”
“Iya. Dan aku juga pernah menonton
di acara televisi jika kita meneriaki binatang dan reaksi mereka tidak ada itu
artinya tempat itu belum pernah dijamah manusia sehingga mereka belum mengenal
manusia.”
“Tunggu, tunggu. Aku bingung. Jika
pendapatku tadi kedengaran masuk akal, pendapatmu juga masuk akal. Aku bingung
harus memilih yang mana?”
“Apa maksudmu? Tentu saja kita harus
memilih pendapatku.”
“Yah, kau bilang di sini kadang ada
orang yang mencari kayu bakar atau semacamnya, kan?”
“Iya.”
“Baiklah. Kita akan memakai
pendapatmu. Aku hanya tinggal mengubah sedikit. Sekarang aku akan mencari
Yudis. Aku ingin tahu apa saja yang ia temukan. Kau sebaiknya segera meneliti
daratan lagi.”
Aku pun kembali ke belantara hutan
mencari hewan, serangga dan tumbuhan. Aku sempat menemui ayam yang mungkin
berasal dari kampung terdekat, tupai, kadal, dan burung. Ini cukup seru karena
aku suka berpetualang menjelajahi hutan. Di sana banyak sekali ada burung,
berkicau tiada henti hingga ramai sekali ditambah suara serangga seperti
jangkrik dan lainnya. Aku sempat membaca fakta di internet kalau ada banyak
burung di suatu wilayah, berarti daerah itu udaranya masih bersih. Jadi kutulis
demikian.
Tak terasa hari sudah siang dan
perutku mulai lapar sehingga aku tidak menolak ketika Yudis dan Rizky
mengajakku makan. Yah sekalian belajar memasak, kami memasak lebih awal agar
lebih cepat selesai karena kami belum pengalaman memasak. Kunyalakan kompor
kecil yang di bawa Yudis dan Rizky mengambil air untuk memasak nasi. Tentu saja
kami tidak menggunakan air sungai, kami sudah menyediakan air khusus untuk memasak
nasi.
Yudis mulai mencoba memotong wortel.
Karena belum pengalaman, agak lama ia memotongnya. Nasi sudah siap dimasak,
tetapi belum kami rebus. Aku memotong ayam sedangkan Rizky memotong tempe.
Ternyata memotong ayam juga melelahkan. Rizky selesai lebih dulu dan membantuku
memotong ayam.
Yudis sudah selesai memotong wortel
dan sekarang menyiapkan wajan dan diberi minyak. Aku pun selesai memotong ayam
dan beranjak mendekati Yudis. Tapi aku kaget melihat wortel hasil potongan
Yudis. Sebagian wortel tampak terpotong bagus. Tetapi sisanya hanya terbagi
menjadi tiga bagian besar.
“Apaan ini? Wortelnya kenapa
begini?” Kata Rizky.
“Kenapa wortelnya di potong
besar-besar? Hanya tiga bagian lagi?” Tanyaku.
“Yah karena aku sudah lapar sekali,
jadi agar cepat kupotong besar-besar saja. Tidak apa kan?” Jawab Yudis santai.
Cerdas sekali anak ini. Yah tidak
apa-apalah. Sementara dirumah aku juga sering makan wortel rebus tanpa
dipotong.
Minyak sudah
cukup panas dan Yudis memasukkan wortelnya. Kami sengaja tidak memotong bawang
karena hanya menggunakan sayur wortel. Rizky yang mengaduk wortel karena takut
Yudis melakukan hal yang tidak kami duga. Selagi menunggu, aku merevisi hasil
penelitian kami dengan Yudis. Rizky tampaknya belum memperbaiki tentang kebiasaan
ikan yang ketakutan ketika didekati sehingga aku mencoretnya dan mengganti yang
benar.
Rizky sudah
selesai memasak wortel, ayam, tempe dan kini ia merebus nasi. Selagi menunggu,
kami merevisi bersama hasil penelitian. Yudis menyalinnya ke lembar yang lebih
baru. Tak terasa ternyata kami malah keasyikan dan lupa tentang nasi yang kami
masak karena kami melakukannya di depan tenda sedangkan kami memasak di
belakang tenda.
Yudis yang
pertama kali sadar akan itu dan mengingatkan kami sehingga kami terbelalak dan
bergegas ke belakang tenda. Begitu kami buka tutup panci, ternyata air sudah
sangat kering dan nasi mengeluarkan bau gosong. Rizky buru-buru mematikan
kompor dan memeriksa nasi itu.
“Wah, parah.
Bagian bawahnya benar-benar gosong. Tidak bisa kita makan. Jadi untuk nanti
malam terpaksa kita masak lagi nasi baru padahal ini untuk nanti malam juga.”
Kata Rizky.
“Apa boleh buat,
kita syukuri saja. Sekarang ayo makan. Perutku sudah berteriak begitu melihat
hidangan itu meski sederhana.” Jawabku.
Kami pun duduk
melingkar dan makan dengan nikmat. Meski sederhana tapi enak juga. Yudis
mengambil garam dan kecap lalu mencampurnya ke nasinya. Aku agak aneh melihat
Yudis yang makan terlalu banyak kecap.
“Yudis, apa di
rumahmu kau tidak pernah makan kecap? Atau malah sering sekali?” Tanyaku.
“Jarang sekali.
Mumpung ibuku tidak mengawasiku, aku ingin makan nasi dengan kecap banyak. Enak
juga ya.” Jawab Yudis.
“Awas nanti kau
malah kecanduan lho.” Kata Rizky menakuti.
“Tidak akan.”
Jawab Yudis santai sambil terus makan dengan lahap.
Kami makan dengan
lahap ditemani konser kalaborasi antara burung, serangga dan suara air. Enak
sekali makan di situ. Tapi belum sampai tiga menit piring Yudis sudah licin
tandas tanpa sisa selain kecap yang menempel. Cepat sekali dia makan.
“Cepat sekali kau
makannya.” Kataku.
“Awas nanti kau
sakit perut lho.” Kata Rizky.
“Tidak akan.
Dimana aku mencuci piring sekarang?” Jawab Yudis santai sambil mengambil air
untuk mencuci piring.
Aku melanjutkan
makanku sambil termenung. Kami masih sempat istirahat selesai makan dan mencuci
piring sebelum melanjutkan kembali penelitian. Kiranya empat hari kedepan kami
sudah bisa menyelesaikan pengamatan.
Kami beristirahat
cukup lama hingga kami ketiduran di payungi pepohonan yang rimbun dan diiringi
musik tidur oleh burung-burung dan dibelai-belai angin sepoi-sepoi. Meski sudah
siang, di sana tetap saja sejuk. (Bersambung)
-
Revan







KOmpor Gas !!!
ReplyDelete